Rabu, 01 Mei 2013

Malam yang terusik

Tak sadarkah mereka
aku yang terbaring
bagai seorang pesakitan
disuguhi bunyi-bunyian sumbang
menghancurkan pikiran dan jiwa
yang baru saja kutata rapi

Aku tutup hariku dengan pintu damai
laksana emas dan perak yang memantulkan cahaya
yang terbit dari matahari nurani
sementara kau rusak pintuku
dengan mantra-mantra yang memekakan telinga
manghancurkan kedamaian
atau bahkan merusak tatanan kehidupan
bukan hanya tatanan sosial
tapi juga tatanan individu
yang ingin kebebasannya
tidak terusik oleh kebebasanmu


Rihan Musadik
Yogyakarta, 1 Mei 2013
Kamar kost, Pukul 23.00

Jumat, 19 April 2013

Taktik Attack dan Counter-Attack dalam Taekwondo

Pendahuluan

Taekwondo semakin berkembang dan dikenal masyarakat luas karena sosialisasi yang dilakukan  lewat berbagai event kejuaraan, ataupun melalui demonstrasi pada acara-acara tertentu. Kejuaraan taekwondo sering diselenggarakan diberbagi daerah, baik kejuaraan tingkat kabupaten, provinsi, maupun nasional. Kejuaraan yang paling sering diselenggarakan adalah kategori kyorugi (pertarungan), tetapi akhir-akhir ini seringkali sebuah event kejuaraan taekwondo digabung antara kyorugi dan poomsae (jurus).

Biasanya peserta atau atlet yang mengikuti kyorugi lebih banyak dari poomsae. Mungkin karena kapasitas pelatih yang hanya ahli di bidang kyorugi saja, atau bisa juga pelatih melihat potensi atletnya, atau karena pertimbangan-pertimbangan lainnya. Tetapi yang perlu dicatat pada kejuraan taekwondo kategori kyorugi; umumnya lebih meriah, ramai, dan menghibur dibanding dengan poomsae. Disamping itu atlet yang mengikuti kyorugi lebih merasa bangga dan puas ketika menjadi seorang juara atau memperoleh medali. Dengan kata lain prestise-nya lebih besar daripada poomsae.

Sabtu, 13 April 2013

Komponen Biomotorik Taekwondo

Oleh: Devi Tirtawirya, M.Or

Taekwondo merupakan olahraga beladiri yang mempunyai beberapa komponen biomotorik yang sangat diperlukan dalam menunjang gerakan dan teknik dalam berlatih taekwondo. Olahraga taekwondo selama ini yang sering dipertandingkan adalah pertarungan (kyorugi), dan seperti kita ketahui, kalau kita bertarung pasti akan memerlukan kekuatan otot, kecepatan, power, keseimbangan, fleksibilitas, daya tahan, serta keterampilan gerak (teknik dan taktik). Komponen-komponen biomotorik tersebut mutlak diperlukan dalam pertarungan taekwondo.

Kekuatan otot merupakan keadaan tubuh mampu mengatasi beban dalam jumlah tertentu. Kondisi tubuh harus cukup kuat jika sedang melakukan pertarungan, sebab cedera patah tulang, terkilir atau yang lainnya bisa terjadi jika otot tidak cukup kuat. Oleh karena itu dalam latihan taekwondo selalu diberikan latihan fisik berupa kekuatan. Latihan kekuatan dalam taekwondo ada bermacam-macam, misalnya: Push-up, sit-up, back-up, leg press, leg curl dan lain-lain. Latihan kekuatan ini tidak harus dengan alat tetapi bisa berpasangan dengan teman.

Jumat, 12 April 2013

Cara Mengatasi Mental Atlet (Taekwondo) yang Buruk

A. Pendahuluan

Taekwondo merupakan olahraga yang membutuhkan kualitas mental yang baik, disamping kualitas fisik yang juga harus mumpuni. Dikatakan membutuhkan kualitas mental yang baik, karena dalam prakteknya seringkali ditemui seorang atlet yang sudah siap secara fisik, teknik, dan taktik. Tapi menjelang pertandingan dapat diamati dari body language dan mimik muka (facial ekspressions), terlihat gelisah, tidak tenang, kurang semangat, sense of humor berkurang, dan sebagainya. Terlebih lagi di saat pertandingan, akan sangat terlihat mana atlet yang memiliki ketegaran mental (mental thougness), dan mana atlet yang mentalnya down.

Hal ini tentu saja mengundang pertanyaan dari seorang pelatih, mengapa keadaan demikian bisa terjadi pada diri atlenya, sementara dari segi fisik, teknik, dan taktik sudah dilatihkan sedemikian rupa. Tetapi pada saat bertanding teknik dan taktiknya terlihat buruk atau tidak maksimal, padahal pada saat sesi latihan terlihat sangat baik. Dari sini pelatih harus segera menyadari, bahwa kualitas fisik, teknik, dan taktik saja belumlah cukup. Ada satu aspek lagi yang perlu mendapat perhatian khusus, yakni mental atau psikologi. Karena betapapun hebatnya seorang atlet, kalau mentalnya down, tentu akan sangat menggangu penampilan atlet. Artinya, atlet tidak bisa menunjukan kemampuannya dengan maksimal. Dan latihan teknik, taktik, dan fisik yang selama ini dilatihkan akan sia-sia dan terbuang percuma, karena pada saat bertanding tidak bisa maksimal akibat keadaan mental yang buruk.

Urgensi Latihan Mental dalam Taekwondo

Oleh: Rihan Musadik

A. Pendahuluan

Taekwondo merupakan olahraga yang membutuhkan kualitas mental yang baik, disamping kualitas fisik yang juga harus mumpuni. Dikatakan membutuhkan kualitas mental yang baik, karena dalam prakteknya seringkali ditemui seorang atlet yang sudah siap secara fisik, teknik, dan taktik. Tapi menjelang pertandingan dapat diamati dari body language/gestures dan mimik muka (facial ekspressions), terlihat gelisah, tidak tenang, kurang semangat, sense of humor berkurang, dan sebagainya. Terlebih lagi di saat pertandingan, akan sangat terlihat mana atlet yang memiliki ketegaran mental (mental thougness), dan mana atlet yang mentalnya down.

Hal ini tentu saja mengundang pertanyaan dari seorang pelatih, mengapa keadaan demikian bisa terjadi pada diri atlenya, sementara dari segi fisik, teknik, dan taktik sudah dilatihkan sedemikian rupa. Tetapi pada saat bertanding teknik dan taktiknya terlihat buruk atau tidak maksimal, padahal pada saat sesi latihan terlihat sangat baik. Dari sini pelatih harus segera menyadari, bahwa kualitas fisik, teknik, dan taktik saja belumlah cukup. Ada satu aspek lagi yang perlu mendapat perhatian khusus, yakni mental atau psikologi. Karena betapapun hebatnya seorang atlet, kalau mentalnya down, tentu akan sangat menggangu penampilan atlet. Artinya, atlet tidak bisa menunjukan kemampuannya dengan maksimal. Dan latihan teknik, taktik, dan fisik yang selama ini dilatihkan akan sia-sia dan terbuang percuma, karena pada saat bertanding tidak bisa maksimal akibat keadaan mental yang buruk.

Rabu, 10 April 2013

Tugas Taekwondo! Cara Mengatasi Mental Atlet yang Buruk

Oleh: Devi Tirtawirya, M.Or

Bagaimana jika menjadi seorang pelatih, menemui atlet yang selalu kalah dalam suatu pertandingan? Dengan kata lain, bagaimana cara seorang pelatih memperbaiki mental atlet yang buruk. Contoh studi kasusnya atlet yang selalu kalah dengan atlet tertentu, mungkin karena takut, nervous, dsb. Bagaimana cara mengatasi ketakutan atlet tersebut, yaitu strategi pelatih untuk membuat atlet menjadi lebih berani, khususnya pada saat pertandingan fight, model latihan seperti apa yang tepat. Kalau bisa dari pengalaman anda melatih, buat model latihan, narasikan atau tuliskan dengan sebaik mungkin, karena itu akan menjadi sesuatu (produk) yang berharga (bahkan bisa untuk bahan skripsi), sebab banyak pelatih yang mungkin tahu caranya, tetapi tidak bisa menuliskannya secara ilmiah (logis, analitis, sistematis, dan runtut) dengan baik.

Identifikasi Pemikiran Para Filsuf


Ciri Berpikir Filosofis:

1. Bersifat Mendasar (Radikal)
Berpikir secara mendasar dan mendalam hingga ke akar persoalannya, hingga ditemukan landasan dasar dari sebuah persoalan, sehingga lebih mudah untuk mencari solusinya (problem solving). Selain itu juga mencari arti kebenaran itu sendiri dengan berbagai kriterianya.

2. Bersifat Spekulatif
Berpikir secara spekulatif, artinya pengetahuan dimulai dengan cara berpikir yang spekulatif untuk menghasilkan probability (memperkirakan secara logis berdasarkan pertimbangan tertentu), sehingga dapat memilih buah pikiran yang dapat diandalkan dan sebagai starting point untuk mengeksplorasi pengetahuan.

3. Bersifat Menyeluruh (Holistik)
Berpikir secara menyeluruh, artinya berpikir dengan berbagai sudut pandang yang berbeda (berpikir melingkar), berani keluar menyebrang dari kebiasaan lama (out of the box), berdialog melintasi batas-batas dogmatis (passing over), dan mengaitkan sebuah pemikiran dengan aspek-aspek yang lain, dengan ilmu-ilmu yang lain, sehingga menghasilkan output atau pemikiran yang lebih komprehensif.

Cara Berpikir Filsuf:
  1. Kritis, logis, sistematis, analistis, dan runtut.
  2. Mempertanyakan segala sesuatu yang dihadapi baik itu sebuah persoalan/argumen/pernyataan/gagasan/ide/opini/tulisan dan sebagainya sepanjang hal itu masih bisa dipikirkan dan dipertanyakan.
  3. Cara berpikir seorang filsuf banyak diawali dengan sebuah pertanyaan, lalu debat, dialog, diskusi, membahas, menuliskan, bahkan terkadang diakhiri dengan sebuah pertanyaan pula.
  4. Banyak yang beranggapan bahwa pekerjaan seorang filsuf ya debat, dialog, diskusi, belajar, bicara, menulis dll.
  5. Memandang segala sesuatu yang dihadapi atau dipelajari sebagai sebuah problematika  yang akan dicari jawabannya.
  6. Berpikir solutif, menghasilkan sebuah solusi, problem solving ‘pemecahan masalah’.
  7. Mencari-cari sebuah fenomena, keganjilan, keanehan, kuriositas,dsb.
  8. Berpikir secara ontologi, epistemologi, dan aksiologi.
  9. Menyanggah, meragukan segala sesuatu yang dihadapi (skeptis), tetapi harus logis atau rasional.
By Rihan Musadik

Selasa, 09 April 2013

Pembinaan Anak Usia Dini

Oleh: Rihan Musadik

Salah satu elemen penting untuk memajukan sebuah bangsa adalah pendidikan anak usia dini (PAUD). Karena dari sinilah watak atau karakter anak akan mudah terbentuk yang nantinya akan terbawa hingga usia dewasa. Ibarat sebuah rumah, pendidikan anak usia dini merupakan pondasi, yang mana jika pondasi itu baik, maka pembuatan rumah selanjutnya juga akan baik dan tidak mudah runtuh. Begitu juga dalam olahraga, jika sejak usia dini anak sudah diajari berbagai keterampilan gerak, maka selanjutnya anak tersebut dapat mengikuti dengan baik cabang olahraga yang menjadi pilihannya kelak, misalnya cabang olahraga taekwondo.

Usia dini merupakan masa yang paling baik untuk mempelajari keterampilan tertentu, misalnya olahraga. Hal ini dikarenakan anak mudah dan cepat belajar. Di samping itu, tubuh mereka masih lentur sehingga akan mudah bila diajarkan berbagai pengayaan gerak yang nantinya dapat mendukung cabang olahraga yang akan digelutinya. Kemudian anak juga senang mengulang-ulang, sehingga dengan senang hati mau mengulang suatu aktivitas hingga terampil. Anak juga bersifat pemberani, sehinga tidak terhambat rasa takut kalau mengalami kesalahan atau diejek teman-temannya, sebagaimana ditakuti oleh anak yang lebih besar (Hurlock dalam Izzaty, 2008).

Menghindari Kesombongan

Puji syukur selalu saya panjatkan pada Allah SWT yang telah memberikan nikmat hidup di dunia ini dengan berbagai fasilitas dan kesenangan yang ada di dalamnya. Tentunya nikmat hidup itu Allah buat agar manusia hanya menyembah kepada Yang Satu. Alhamdulillah, hari selasa ini bi idznillah saya bisa bangun pada sekitar pukul 3.20 WIB, karena memang sebelum tidur saya berniat untuk bangun malam buat nonton laga lanjutan Barclays Premier League yang mempertemukan derbi Manchester leg kedua, antara Manchester city kontra Manchester united. Dan saya merasa cukup senang, karena tim favoritku The citizens bisa menang dengan skor 2-1, meskipun akan sangat sulit mengejar ketertinggalan poin dari MU yang sudah melaju sangat jauh dengan selisih poin 12 dari city. Oleh karenanya sudah bisa di prediksi juara Liga Inggris  musim ini adalah MU, dan city harus puas dengan posisi runner-up (gak papa lah, yang penting bisa masuk zona liga champion).

Pada hari ini, saya sangat bersyukur, karena bisa memulai lagi “menata hidup dengan rapi”, dan terus berjuang melawan diri sendiri, yaitu hawa nafsu, kemalasan, dan segala hal negatif yang ada dalam diri; yang semua itu kudu di lawan dan di potong sehingga terbentuk kebiasaan-kebiasaan yang baik. Kalau kebiasaan baik sudah tertanam dalam diri, maka akan membentuk karakter, dan karakter inilah yang ikut menentukan nasib kita.