Kamis, 20 Februari 2014

Air Berdebu

Air bening natural dari awalnya
Bercampur debu abu kelud
Mengguyurnya pada atap-atap rumah

Air suci jadi keruh
intim dengan debu abu kelud
menjadi manunggal zatnya

yang bersih menjadi kotor
Tapi dengan segala cara daya upaya
Air bening kembali
walau tidak natural dalam kalbunya
lantaran sudah ternodai

Lalu keruh lagi berbau
Bersih lagi bening kembali
Begitu terus bersiklus


Rihan Musadik
Yogyakarta, 20 Februari 2014

Sabtu, 08 Februari 2014

Salahkah Aku?

Salahkah aku mencintaimu, duhai kasih?
“Jelas salah,” sahut orangtua itu
Kenapa? Apa salahku?
“Karena hatimu sudah salah,” jawab si Kakek
Apa maksudnya?

“Hatimu kotor, sementara hati wanita itu suci”
“Pikiranmu keruh, sementara pikiran wanita itu jernih”
“Jadi secara ruhani engkau salah mencintai orang”
“Maka pilihlah wanita yang sehati denganmu”
“Berhati kotor dan berpikiran keruh”

Aku terdiam, termenung, berpikir
Kalau itu jawabanmu, Kakek
Sungguh betapa tidak adilnya Tuhan
Bukankah harusnya aku bersama belahan hati yang suci
pikiran yang jernih
Agar aku ikut melebur ke dalam kesucian dan kejernihannya

Kalau ini jawabannya, mungkin akan lebih bijak, Kakek
Kali ini orangtua itu yang terdiam dan merenung

Tapi sejenak aku berpikir
Bagaimana kalau wanita yang kucintai
justru melebur ke dalam kekotoran dan kekeruhanku?
Saat itu, aku sangat berharap Socrates datang di hadapanku
agar bisa memberi jawaban bijak


Rihan Musadik
Ngayogyakarta Hadiningrat, 8 Februari 2014

Senin, 27 Januari 2014

Lindu Siang Itu

Hari itu
tepat saat hari ulang tahunku
Bumi bergoncang
tepat saat waktu dhuhur
tepat saat orang-orang shalat
ini hadiah ulang tahun dari Tuhanku

tepat saat itu
Aku tersadar
Bibir ini terus mengucap kalimat-Nya
Hati ini terus terhubung dengan Dia
betapa kecilnya manusia
begitu paniknya hanya dengan goncangan 6,5 skala richter
masihkah ada yang mau untuk berpongah diri
masih adakah yang mengandalkan diri

Lindu siang itu
membuat beberapa rumah terkoyak
Rumah ibadah pun ambruk
itu hanya goncangan kecil

Hadiahku pada hari itu
berupa kesadaran akan kelemahan diri
Rasa pasrah, menyandar, tawakkal
hanya pada-Nya
Bukan bersandar pada diri sendiri
atau yang lain


Rihan Musadik
Jogja, Januari 2014

Saudaraku Di sana

ya ukhti, apapun namanya
itu kau, malah membunuhku
ya akhi, kaukah, itulah
membuatku melemah
kulenyapkan saja dikau, pandir, tanyaku
akhi fillah dengan lembut mencegah
aku gertak, ia tahu itu gertak sambal
bosan aku dengan perkataan itu
lalu apa, dan harus bagaimana?


Rihan Musadik
Jogja, 26 Januari 2014

Jumat, 24 Januari 2014

Aku Bertanya Kau

“Kau pilih yang mana?” tanyaku
Ia tak menjawab, hanya merenung
“Apa kau yakin itu di antaranya?”
Ia masih saja terdiam
“Apakah selayu ini dirimu, hingga tak mampu menjawab sepatah kata pun?”

Aku pikir itu semua pilihanmu yang sudah kau pilah-pilah
kenapa kau begitu pusing dibuatnya,
sampai-sampai memilih satu saja kau pun tak sanggup

Aku perhatikan, ia mulai membuka mulut
Aku menduga ia akan segera menjawab pertanyaanku
Kudengarkan dengan seksama, hati-hati aku mendengarnya

Ia pun bersuara, “Aku tak tahu, kawan”
Sungguh, jawaban tak memuaskan

Ia lanjutkan ucapannya,
Aku bahkan ragu itu semua pilihanku
ataukah sekedar mampir sebentar, lalu pergi entah kemana
seperti yang dulu-dulu

Kalaupun di antara mereka itu milikku
dengan senang hati aku menerimanya

“Kau yakin satu di antara mereka itu milikmu,” aku menyela
“Tidak juga,” katanya

“Lantas?”

Aku tidak mungkin tahu, sobat
Lantaran hidupku ini sudah ditentukan dengan siapa

“Siapa yang menentukanmu kalau bukan kamu?” aku makin penasaran

Kau cari sendirilah, kawan
mudah-mudahan kau menemukannya
Dia itu yang mengatur aku dan juga kamu

Kali ini, aku yang terdiam, merenung, terus kucari, siapa Dia?


Rihan Musadik
Jogja, 24 Januari 2014

Hujan Darah

Bagiku hujan adalah kekuatan
membakar hati hingga membara
guyurannya berirama di atas atap-atap gubuk
membasahi ibu pertiwi yang selalu menunggu

Aku bayangkan guyurannya adalah darah
berceceran di atas muka bumi
sebagai isyarat perjuangan tak takut mati
berjuang sampai merangkak, merayap, meronta-ronta
sampai titik darah penghabisan
seluruh tubuh dipenuhi luka
berdarah-darah

Dan bumi pertiwi tersenyum
karena dilumuri darah
Darahnya para pejuang
tidak berbau anyir
Ia semerbak bagai kasturi dari surga


Rihan Musadik
Jogja, 24 Januari 2014

Rabu, 01 Januari 2014

Perbedaan Rematch dan Revans

Oleh: Rihan Musadik
 
Revans Pacquiao vs Marquez jilid 4
Dalam dunia olahraga, dua istilah ini, yaitu rematch dan revans mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kita. Media-media baik cetak maupun elektronik seringkali menyebutkan kedua istilah ini, namun tidak sedikit di antara kita yang kurang paham apa sebenarnya pengertian kedua istilah tersebut dan apa perbedaannya?

Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) istilah rematch tidak tercantum, sedangkan istilah revans tercantum. Revans diartikan sebagai penebusan kekalahan dalam permainan atau olahraga, contoh kalimatnya: Ia akan mengadakan revans terhadap orang yang mengalahkannya. Untuk istilah rematch dalam kamus berbahasa Inggris diartikan dengan sesuatu terutama permainan atau olahraga yang dimainkan lagi, atau dengan kata lain disebut tanding ulang. Lantas apa perbedaan kedua istilah tersebut?