Tampilkan postingan dengan label Tugas Perkuliahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tugas Perkuliahan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Januari 2015

Contoh Program Latihan Taekwondo

Annual Program Taekwondo

Annual Program Taekwondo

Macro Program Taekwondo


By Rihan Musadik, S.Pd.

Rabu, 14 Januari 2015

Kuliah Pelatihan Adaptif

Prakata

Pada waktu kuliah semester tiga, penulis sempat mendapat materi kuliah Pelatihan Adaptif dari Prof. Sukadiyanto. Akan tetapi, beliau mengajar kelas kami hanya beberapa kali saja, karena minggu-minggu berikutnya hingga semester tiga berakhir, kuliah Pelatihan Adaptif dilanjutkan oleh dosen lain. Hal ini bisa dipahami, karena Prof. Sukadiyanto adalah dosen yang cukup sibuk dan sudah banyak mata kuliah yang diampu oleh beliau.

Di samping itu, sebenarnya beliau juga tidak terlalu suka dengan mata kuliah baru ini. Hal ini terlihat ketika beliau mengajar kelas kami di awal-awal pertemuan, beliau sering mengkritik dan mengatakan ketidaksetujuannya dengan program baru mata kuliah Pelatihan Adaptif. Akan tetapi, karena satu atau lain alasan, akhirnya beliau mau juga mengampu mata kuliah ini. Beliau sering mengatakan, mata kuliah Pelatihan Adaptif tidak penting bagi mahasiswa PKO, karena fokus mahasiswa kepelatihan itu untuk melatih anak-anak normal bukan yang berkebutuhan khusus, melatih yang normal saja sulit apa lagi yang berkebutuhan khusus.

Akan tetapi, karena sudah menjadi keputusan fakultas, akhirnya launching juga mata kuliah ini, dan kebetulan angkatan kami (2010) yang pertama kali mendapat mata kuliah ini. Lalu kenapa yang ditugasi Prof. Sukadiyanto? Menurut penuturan beliau, karena dosen lain tidak ada yang mengiyakan alias menyanggupi, dan karena dorongan dekan, terpaksa beliau menyanggupinya.

Selasa, 13 Januari 2015

Perbedaan Kepribadian Seseorang

Oleh: Rihan Musadik

Kepribadian seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungan dimana orang tersebut tumbuh dan berkembang. Pertama sekali, seseorang akan sangat dipengaruhi oleh lingkungan keluarganya, bagaimana cara orangtua mendidik anak-anaknya akan sangat berpengaruh dalam membentuk kepribadian anak tersebut.

Jika sejak kecil anak di-didik dengan nilai-nilai religius, moral, kesopanan, kemandirian, dan budi pekerti; maka hal itu akan membuat pribadi anak menjadi baik. Sebaliknya, jika sejak kecil anak hidup dalam lingkungan yang tidak baik dan orangtuanya tidak mendidik dengan nilai-nilai agama; maka besar kemungkinan anak tersebut akan memiliki kepribadian yang buruk.

Di samping pengaruh dari lingkungan dan pendidikan dalam kelurga, pendidikan yang diperoleh seorang anak di luar keluarga juga akan ikut mempengaruhi baik atau tidaknya kepribadian anak tersebut. Oleh karena itu, orangtua harus selektif dalam memasukkan anak-anaknya ke lembaga pendidikan.


*Ditulis dalam diskusi mata kuliah Psikologi Pendidikan

Relasi antar Institusi Sosial

A. Institusi Sosial / Pranata Sosial:
  1. Kinship (keluarga)
  2. Religi (agama)
  3. Education (pendidikan)
  4. Economy (ekonomi)
  5. Politik
B. Keterkaitan Secara Makro antar Institusi Sosial

Institusi sosial pertama yang bersentuhan dengan kehidupan seseorang adalah kinship, yakni institusi dalam keluarga. Dari keluarga inilah seseorang memperoleh education, yakni pendidikan pertama dari masa kanak-kanak hingga menginjak usia remaja atau dewasa. Akan tetapi, seseorang tidak hanya memperoleh pendidikan dari keluarga saja, tentunya ia akan mendapatkan pendidikan dari luar keluarga, entah itu dari sekolah, lingkungan, maupun pergaulan.

Kemudian dalam dunia pendidikan, khususnya sekolah atau lembaga pendidikan yang lain, baik yang formal, informal, maupun non-formal, akan diajarkan berbagai aspek dalam kehidupan, salah satunya religi. Dari sini seseorang akan memperoleh tambahan pengetahuan tentang aspek religi atau agama, yang sebelumnya pengetahuan religi didapat dari keluarga, tentu saja jika keluarga tersebut menanamkan nilai-nilai religiusitas semenjak kecil.

Senin, 12 Januari 2015

Kuliah Filosofi Kepelatihan (2)

A. Ciri-Ciri Latihan
  1. Proses latihan harus teratur (ajeg, maju, dan berkelanjutan)
  2. Latihan bersifat progresif (materi latihan diberikan dari yang mudah ke yang sukar, dari yang sederhana ke yang kompleks, dan dari yang ringan ke yang lebih berat)
  3. Setiap satu kali tatap muka harus memiliki tujuan dan sasaran yang jelas
  4. Materi latihan berisikan materi teori dan praktek
  5. Menggunakan metode tertentu, yakni cara paling efektif yang direncanakan secara bertahap dengan memperhitungkan faktor kesulitan, kompleksitas gerak, dan penekanan pada sasaran latihan.
B. Tujuan dan Sasaran Latihan
  1. Meningkatkan kualitas fisik dasar secara umum dan menyeluruh
  2. Mengembangkan dan meningkatkan potensi fisik khusus
  3. Menambah dan menyempurnakan keterampilan teknik
  4. Mengembangkan dan menyempurnakan strategi, taktik, dan pola bermain
  5. Meningkatkan kualitas dan kemampuan psikis olahragawan dalam bertanding

Kuliah Filosofi Kepelatihan (1)

Prakata

Almarhum Prof. Dr. Sukadiyanto, M.Pd. adalah salah seorang dosen sekaligus guru besar di Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Yogyakarta (FIK UNY). Beliau meninggal pada 10 Desember 2014 di usianya yang ke-54. Sewaktu penulis masih menjalani kuliah pada program studi Pendidikan Kepelatihan Olahraga (PKO), penulis sempat diajar beliau untuk mata kuliah Filosofi Kepelatihan dan Pelatihan Adaptif. 

Prof. Sukad—demikian beliau sering disapa oleh para mahasiswa—adalah dosen yang sangat produktif menghasilkan karya ilmiah, tulisan-tulisan beliau telah banyak diterbitkan di berbagai jurnal keolahragaan maupun pendidikan, buku-buku beliau juga telah diterbitkan, yaitu Pengantar Teori dan Metodologi Melatih Fisik dan Metode Melatih Fisik Petenis.

Ada beberapa materi kuliah dan tulisan-tulisan Prof. Sukadiyanto yang sempat beliau upload sendiri di staff.uny.ac.id, pembaca bisa men-download-nya di website tersebut. Akan tetapi, untuk materi kuliah Filosofi Kepelatihan tidak atau belum beliau upload karena satu atau lain sebab. Oleh karena itulah, penulis merasa terpanggil untuk mempublikasikan catatan-catatan materi kuliah Filosofi Kepelatihan yang didapat dari beliau.

Jumat, 26 Desember 2014

Sejarah Berdirinya UKM Taekwondo UNY

Oleh: Rihan Musadik

Dojang UKM Taekwondo UNY
Taekwondo adalah olahraga beladiri asal Korea yang sudah sangat populer di Indonesia, terlebih lagi di wilayah provinsi DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta). Beladiri taekwondo merupakan olahraga nasional dari negara Korea, dan sudah diakui sebagai salah satu cabang olahraga resmi yang dipertandingkan di Olimpiade. Di Indonesia sendiri sudah diakui sebagai cabang olahraga nasional yang dipertandingkan di PON (Pekan Olahraga Nasional). Taekwondo sebagai salah satu cabang olahraga yang cukup besar peminatnya, sangat berkembang pesat di kalangan para pelajar dan mahasiswa, baik di tingkat daerah, nasional, maupun internasional

Sekitar tahun 1980-an, taekwondo merupakan salah satu cabang olahraga yang mulai digemari oleh para remaja, pelajar, maupun mahasiswa di Indonesia. Hal ini terbukti dengan banyaknya kejuaraan taekwondo yang digelar, serta pesatnya peningkatan jumlah tempat latihan (dojang). Adapun kejuaraan yang diadakan meliputi berbagai tingkatan, antara lain: kejuaraan tingkat dojang/klub, kejuaraan daerah, kejuaraan nasional, hingga kejuaraan tingkat internasional. Melihat kenyataan tersebut, maka munculah sebuah ide atau gagasan dari seorang mahasiswa UNY (IKIP Yogyakarta) untuk memasukkan cabang olahraga taekwondo ke dalam Unit Kegiatan Mahasiswa atau disingkat UKM.

Kamis, 25 Desember 2014

Organisasi dalam Olahraga

Oleh: Rihan Musadik

Salah satu organisasi yang acapkali dijumpai dalam masyarakat adalah organisasi olahraga. Pada dasarnya organisasi dalam bidang olahraga tidak berbeda jauh dengan organisasi pada umumnya. Perbedaaannya hanya terletak pada rangkaian kegiatan atau aktivitas yang dijalankan. Kemudian tujuan dari organisasi olahraga lebih kepada pembinaan dan peningkatan prestasi. Jadi, secara sederhana organisasi olahraga dapat diartikan sebagai usaha dari sekelompok orang yang bergerak di bidang olahraga dan saling bekerjasama untuk mencapai tujuan pembinaan dan peningkatan prestasi (Dwi Susanto, 2011: 24).

Macam dari organisasi di bidang olahraga sangat beragam, mulai dari organisasi yang besar seperti Kemenpora, KONI, KOI, hingga level yang paling bawah seperti klub olahraga, UKM, perkumpulan, perguruan beladiri, selabora, dan sebagainya. Cabang olahraga di Indonesia sendiri sangat banyak dan beragam. Oleh karena itu, perlu adannya induk organisasi yang mengatur cabang-cabang olahraga yang ada. Adapun induk organisasi olahraga di negara Indonesia yang membawahi, mengatur, dan mengkoordinir semua organisasi cabang olahraga di Indonesia adalah KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia). KONI sendiri dibagi berdasarkan wilayah kerjanya, ada KONI Pusat yang bertempat di Jakarta, KONI Provinsi, dan KONI Kabupaten. Masing-masing mengatur dan mengakomodasi seluruh cabang olahraga yang ada di wilayahnya.

Senin, 22 Desember 2014

Model-Model Latihan Taekwondo

Ilustrasi Latihan Taekwondo
A. Model Latihan Daya Tahan Taekwondo
  • Tujuan         :  Daya tahan taekwondo
  • Metode        :  Circuit training
  • Volume        :  2 menit
  • Periodisasi   :  Tahap persiapan khusus
Pelaksanaan:
  • Sebelum memulai latihan lakukan dahulu pemanasan (warming-up). 
  • Latihan ini dilakukan dengan menyelesaikan 4 pos, yang setiap pos memiliki tendangan yang berbeda, yaitu:
    • Pos 1  :   Peta chagi, kanan 2 kali, kiri 2 kali. Ke pos 2 step samping
    • Pos 2  :   Bal chagi, kanan-kiri 4 kali tendangan. Ke pos 3 putar pinggul
    • Pos 3  :   Nare chagi, 4 kali. Menuju pos 4 dengan step mundur
    • Pos 4  :   Dollyo chagi, 4 kali tendangan. Kembali ke pos 1 dengan jogging
Contoh lain model latihan daya tahan taekwondo:
 

Rencana Pengajaran Mikro Taekwondo

Pertemuan 1
  1. Doa, presensi, introduksi, penjelasan
  2. Stretching
  3. Awalan taekwondo: junbi, charyot, kyongre
  4. Seogi (kuda-kuda): ap kubi, ap seogi, juchum seogi
  5. Jireugi (pukulan): momtong, area, eolgul, barrow (rileks)
  6. Cooling down
  7. Koreksi, evaluasi, penutup
Pertemuan 2
  1. Doa, presensi, penjelasan
  2. Stretching
  3. Mengulang: juchum seogi, momtong jireugi
  4. Pukulan: dobyon, eolgul, area
  5. Area makki, an makki, bakkat makki
  6. Area makki momtong jireugi, etc.
  7. Oen ap seogi, oen ap kubi (sambil jalan jireugi)
  8. Cooling down
  9. Koreksi, evaluasi, penutup

Minggu, 14 September 2014

Tinjauan Biomekanika Teknik Dollyo Chagi (5)

C. Kesimpulan dan Saran 

Seiring dengan pesatnya perkembangan sains dan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi), berpengaruh pula pada dunia keolahragaan, dimana penerapan sains dan teknologi sudah banyak dilakukan di negara-negara maju. Salah satunya adalah penerapan mekanika, yaitu studi analisis tentang gerak suatu benda, yang akhirnya berkembang menjadi biomekanika, sebagai bidang ilmu aplikasi mekanika pada sistem tubuh manusia (anatomi).

Salah satu indikator keberhasilan taekwondoin dalam berlatih taekwondo adalah kemampuannya dalam melakukan berbagai jenis tendangan, karena tendangan merupakan gerakan yang menjadi ciri khas dan paling dominan digunakan dalam taekwondo, meskipun tetap menggunkan pukulan dan tangkisan. Apalagi bagi atlet poomsae, bentuk tendangan harus benar-benar luwes, dan terlihat indah, dan ini memerlukan keseimbangan, kelentukan, dan koordinasi serta dasar gerak yang benar, mulai dari ready position (sikap kuda-kuda) hingga follow through (posisi akhir). Untuk membantu menganalisis pelbagai gerakan taekwondo, dengan tujuan memperbaiki teknik atau performance, pelatih dapat mengaplikasikan biomekanika dalam taekwondo.

Tinjauan Biomekanika Teknik Dollyo Chagi (4)

Hukum-Hukum Biomekanika dalam Teknik Dollyo Chagi 

Hukum-hukum biomekanika yang dapat diterapkan pada teknik dollyo chagi dalam taekwondo antara lain:

1. Keseimbangan 

Dalam taekwondo keseimbangan sangat dibutuhkan pada saat melakukan gerakan tendangan, karena sedikit saja keseimbangan terganggu akan membuat kesempurnaan tendangan menjadi berkurang, terlebih lagi pada saat pertandingan poomsae (jurus), keluwesan dan keindahan bentuk tendangan merupakan indikator yang juga menjadi penilaian juri. Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi keseimbangan antara lain: (1) tingginya titik berat, (2) letak garis berat, (3) luas dasar penumpu, (4) massa objek, (5) gesekan, makin besar gaya gesek makin stabil, (6) posisi segmen- segmen badan, (7) faktor penglihatan dan psikologis, (8) faktor fisiologis (alat pengatur keseimbangan tubuh yang disebut semicircular canalis, bila alat terganggu akan mempengaruhi perasaan keseimbangan).

Dalam aplikasinya tendangan dollyo merupakan salah satu gerakan yang cukup kompleks dalam beladiri taekwondo. Secara teoritis letak titik berat selalu berubah sesuai dengan sikap dan posisi tubuh pada saat menendang, juga sangat menentukan terhadap teknik gerak. Titik berat adalah titik dimana pusat gaya berat suatu objek berada. Dapat juga dikatakan bahwa titik berat adalah titik yang mewakili berat dari benda atau tubuh (Soedarminto, 1992: 149-151). Titik berat tubuh sangat berpengaruh terhadap keseimbangan taekwondoin pada saat melakukan teknik dollyo chagi.

Tinjauan Biomekanika Teknik Dollyo Chagi (3)

Teknik Dollyo Chagi

Dollyo chagi merupakan salah satu bentuk tendangan yang paling sering dipakai dalam sebuah pertandingan karena keefektifannya dalam menghasilkan poin, di samping banyak pula bentuk tendangan-tendangan yang lain. Tetapi semenjak diterapkannya PSS (Protector Scoring System), banyak atlet yang menggunakan yeop chagi sebagai alternatif tendangan yang juga banyak menghasilkan poin. Tetapi dalam hal ini, dollyo chagi tetap merupakan tendangan favorit yang sering digunakan atlet dalam bertanding.

Salah satu indikator keberhasilan seorang taekwondoin dalam berlatih taekwondo adalah kemampuannya dalam melakukan berbagai jenis tendangan, karena tendangan merupakan gerakan yang menjadi ciri khas dan paling dominan digunakan dalam taekwondo, meskipun tetap menggunkan pukulan dan tangkisan. Dalam hal ini, dollyo chagi merupakan salah satu tendangan wajib yang harus dikuasai betul oleh seorang taekwondoin, baik pemula maupun tingkat lanjut, baik atlet poomsae (jurus) maupun atlet kyorugi (tanding). Apalagi bagi atlet poomsae, bentuk tendangan harus benar-benar luwes serta terlihat indah, dan ini memerlukan keseimbangan, kelentukan, koordinasi, serta dasar gerak yang benar, mulai dari ready position (sikap kuda-kuda) hingga follow through (posisi akhir).

Sabtu, 13 September 2014

Tinjauan Biomekanika Teknik Dollyo Chagi (2)

B. Pembahasan

Pada pertandingan taekwondo (kyorugi), perolehan poin akan lebih banyak didapatkan dengan tendangan dollyo (dollyo chagi). Karena untuk mendapatkan satu poin seorang atlet harus bisa mengenai lawan, yaitu body protector-nya dengan tendangan yang keras dan berbunyi. Sedangkan untuk menghasilkan tendangan yang keras dan berbunyi pada body protector lawan, tentu harus menggunakan punggung kaki (baldeung), dan tendangan yang menggunakan punggung kaki, yaitu dollyo chagi dengan berbagai variasinya.

Tetapi seiring dengan perkembangan peraturan pada pertandingan kyorugi, yaitu diterapkannya PSS (Protector Scoring System), saat ini untuk mendapatkan poin, atlet dituntut tidak hanya power tendangan yang berkualitas, tetapi juga dibutuhkan akurasi yang tinggi untuk mendapatkan poin. Oleh karena pertandingan menggunakan PSS ini sangat membutuhkan akurasi tendangan dan power yang besar, meleset sedikit saja atau tidak tepat dari “chip” yang terpasang di punggung kaki dan body protector, maka poin tidak akan muncul, meskipun power tendangan besar, dan kuantitas tendangan banyak. Begitu pula power tendangan, sangat mutlak diperlukan, karena jika tendangan sudah tepat mengarah ke sasaran, tetapi power yang dihasilkan kurang, maka poin juga tidak akan muncul.

Di samping dollyo chagi, tendangan lain yang juga efektif digunakan pada saat pertandingan (kyorugi)—yang saat ini menggunakan PSS—adalah yeop chagi, karena pada tendangan ini menggunakan telapak kaki bagian dalam (balbadak). Sedangkan pada bagian balbadak terpasang “chip” yang bila mengenai sasarannya, yaitu “chip” pada body protector akan menghasilkan poin dengan power yang sesuai. Tetapi pada makalah ini, penulis hanya akan membahas dan menganalisis dollyo chagi ditinjau secara biomekanika. Karena tendangan dollyo chagi merupakan salah satu tendangan dasar yang paling banyak digunakan dari dulu hingga sekarang, baik pada saat pertandingan maupun untuk pertunjukan atau demonstrasi tendangan.

Bersambung...

Tinjauan Biomekanika Teknik Dollyo Chagi (1)

A. Pendahuluan

Beladiri taekwondo merupakan salah satu cabang olahraga full body contact dengan aplikasi gerak yang sangat kompleks. Dikatakan sangat kompleks, karena gerakan-gerakan dalam taekwondo membutuhkan power, kecepatan, kelentukan, kekuatan, koordinasi, keseimbangan, dan akurasi yang tinggi untuk menghasilkan gerakan yang sempurna, baik saat melakukan tendangan, pukulan, maupun tangkisan. Oleh karena itu, teknik harus selalu dilatihkan pada saat latihan, sesuai dengan tingkatan masing-masing taekwondoin. Dimulai dari gerakan dasar (ki bon dojak), hingga berlanjut ke gerakan-gerakan yang lebih kompleks.

Seiring dengan pesatnya perkembangan sains dan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi), berpengaruh pula pada dunia keolahragaan, dimana penerapan sains dan teknologi sudah banyak dilakukan di negara-negara maju. Salah satunya adalah penerapan mekanika, yaitu studi analisis tentang gerak suatu benda, yang akhirnya berkembang menjadi biomekanika, sebagai bidang ilmu aplikasi mekanika pada sistem tubuh manusia (anatomi). 

Selasa, 19 Agustus 2014

Dampak Penggunaan PSS (Protector Scoring System) dalam Pertandingan Taekwondo - BAB IV


BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan 

Berdasarkan uraian dari pembahasan di bab sebelumnya, maka dapat diambil kesimpulan bahwa penggunaan PSS itu sendiri secara langsung tentu akan berdampak pada aspek yang lain seperti sistem penilaian atau poin, penjurian, masalah biaya, dan juga mempengaruhi teknik, taktik, fisik, mental, yang tentunya juga akan berimbas pada penyesuaian latihan demi efektivitas untuk menghasilkan poin saat bertanding dengan menggunakan alat PSS. Untuk lebih jelasnya akan diidenifikasikan kelebihan dan kekurangan penggunaan PSS pada olahraga taekwondo, khususnya di Indonesia sebagai berikut:  

Dampak Penggunaan PSS (Protector Scoring System) dalam Pertandingan Taekwondo - BAB III


BAB III
PEMBAHASAN

Penggunaan suatu alat yang berbasis sains dan teknologi, tentu akan sangat menguntungkan apabila bisa digunakan secara tepat dan proporsional. Akan tetapi, penggunaan sebuah teknologi bukanlah tanpa kendala, kerugian, kekurangan, dan kelemahan. Di satu sisi ada dampak yang ditimbulkannya, karena sifat dari sains dan teknologi adalah selalu menghasilkan solusi, tetapi di lain pihak juga memunculkan suatu masalah baru yang butuh pemecahan kembali.

Begitu juga dalam dunia olahraga, penerapan teknologi dalam bidang olahraga, baik kepelatihan maupun pertandingan, di satu sisi membawa keuntungan tersendiri, tetapi pada sisi lain juga melahirkan masalah-masalah baru. Salah satu contohnya yang sedang dibahas dalam makalah ini adalah penggunaan alat PSS (Protector Scoring System), IVR (Instant Video Replay) dalam pertandingan taekwondo kategori kyorugi (fight), yang tentu saja akan membawa keuntungan tersendiri, tetapi juga akan dibahas kerugian dan kekurangannya, khususnya bagi taekwondo di Indonesia. 

Keuntungan Penggunaan PSS

Hampir semua cabang olahraga di dunia saat ini sedang berevolusi memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mendorong agar kegiatan olahraga, terutama dalam pertandingan atau kejuaraan internasional memperoleh hasil atau penilaian yang lebih objektif, sehingga unsur subjektivitas bisa diminimalkan (pelatnastaekwondo.wordpress.com). Penggunaan alat PSS ini memberi keuntungan tersendiri pada keobjektifan dalam memberikan poin, karena tendangan yang sah untuk mendapatkan poin akan sangat terukur. Tendangan yang berhak untuk mendapat poin adalah tendangan yang tepat mengenai area poin body protector dan dengan power yang tepat sesuai dengan masing-masing bobot pada masing-masing kelas dalam kyorugi.

Dampak Penggunaan PSS (Protector Scoring System) dalam Pertandingan Taekwondo - BAB II


BAB II 
KAJIAN TEORI

Secara etimologis taekwondo berasal dari bahasa Korea dimana beladiri ini lahir. Dalam bahasa Korea, Tae berarti menendang atau menghancurkan dengan kaki; Kwon berarti tinju; dan Do berarti jalan atau seni. Jadi, Taekwondo dapat diterjemahkan dengan bebas sebagai “seni tangan dan kaki” atau “teknik gerak kaki dan kepalan”. Lebih tepatnya seni beladiri yang menggunakan tangan dan kaki untuk menendang, memukul, menangkis, dan berbagai variasi gerakan yang dihasilkan.

Taekwondo adalah gabungan dari teknik perkelahian, beladiri, olahraga, seni, hiburan, dan filsafat. Seni beladiri ini pada umumnya lebih menekankan tendangan yang dilakukan dari suatu sikap bergerak, dengan menggunakan daya jangkau dan kekuatan kaki yang lebih besar untuk melumpuhlan lawan dari kejauhan. Dalam suatu pertandingan, tendangan serong berputar (dollyo chagi), tendangan T samping (yoep chagi) adalah yang paling banyak dipergunakan disamping tendangan-tendangan yang lain. Latihan taekwondo juga mencakup suatu sistem yang menyeluruh dari pukulan dan pertahanan dengan tangan, tetapi pada umumnya tidak menekankan grappling (pergulatan).

Senin, 18 Agustus 2014

Dampak Penggunaan PSS (Protector Scoring System) dalam Pertandingan Taekwondo - BAB I


BAB I 
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah  

Dewasa ini olahraga taekwondo menjadi salah satu cabang beladiri yang cukup banyak peminatnya di dunia, terlebih lagi di Indonesia dengan jumlah penduduk yang cukup banyak, maka sangat terbuka kemungkinan taekwondo dapat berkembang pesat dengan cepat. Peminatnya dari anak usia dini, remaja, dewasa atau pemuda, baik pria maupun wanita. Taekwondo menjadi semakin populer karena begitu banyaknya sosialisasi yang dilakukan, baik lewat acara-acara seni pertunjukan, pamflet, baliho, spanduk yang dipasang, lewat sekolah-sekolah, maupun lewat internet. Apalagi dengan semakin banyaknya dojang atau klub yang dibuka, akan semakin tersosialisasikan dengan baik.

Dengan semakin banyaknya dojang dan klub-klub taekwondo yang tersebar, akan menyebabkan dampak yang positif bagi generasi muda. Karena dari usia muda, bahkan usia dini, taekwondoin akan dilatih untuk disiplin, saling menghormati, sopan santun, dan itu berarti taekwondo selalu mengajarkan pendidikan karakter atau pendidikan moral yang akhir-akhir ini selalu disorot karena semakin terlihat adanya demoralisasi pada generasi muda.
 

Kamis, 10 Oktober 2013

Komunikasi Konseling dalam Olahraga

Oleh: Rihan Musadik

Dari artikel tersebut di atas, dijelaskan tentang konsep, pengertian, dan tujuan dari komunkasi konseling secara singkat. Apabila dikaitkan dengan bidang keolahragaan, khususnya dalam dunia kepelatihan, komunikasi konseling dirasa sangat perlu untuk terus dibangun dan dikembangkan yang tujuannya tidak lain adalah membantu, melayani, dan mengatasi permasalahan yang dihadapi atlet. Dalam hal ini, atlet disebut dengan konseli, yaitu pihak yang berkonsultasi, pihak yang mengutarakan keluhan-keluhan dan permasalahan yang sedang dihadapi. Sedangkan pelatih berperan sebagai konselor, yaitu pihak yang memberikan arahan, bimbingan kepada atlet untuk mengatasi problem yang dihadapinya.

Pada artikel “Pengertian, Tujuan, dan Macam Teknik Dasar Komunikasi Konseling” yang diposkan oleh Naning R. Purwaningrum di mentilnyaentung.blogspot.com disebutkan bahwa konsep dasar komunikasi konseling adalah pemberian respon-respon yang fasilitatif oleh konselor kepada konseli. Namun demikian, tidak dijelaskan secara rinci apa itu respon fasilitatif. Akan tetapi, bisa dipahami bahwa yang dimaksud dengan respon fasilitatif adalah pemberian tanggapan, perhatian, ataupun umpan balik positif dari konselor, berupa layanan yang solutif, sekaligus memberikan fasilitas kepada konseli, agar tujuan utama dari komunikasi konseling ini tercapai, yaitu mengatasi permasalahan yang dihadapi konseli.