Tampilkan postingan dengan label CHIP (Catatan Harian Ilmiah Populer). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CHIP (Catatan Harian Ilmiah Populer). Tampilkan semua postingan

Minggu, 30 Agustus 2015

Makna Nama "Rihan Musadik"

Urgensi Makna Nama

Nama “Rihan Musadik” diberikan oleh ayah saya, karena memang beliaulah yang paling berhak untuk memberikan nama bagi anaknya. Di samping itu, nama bukanlah hal yang sepele dalam Islam. Rasulullah sendiri seringkali memberikan ganti nama yang lebih baik bagi para sahabatnya yang memiliki nama yang mengandung arti tidak baik. 

Bahkan beliau menjadikan nama seseorang sebagai bentuk optimisme, pernah suatu ketika beliau akan melakukan suatu hal dan beliau menjumpai seseorang yang bernama “Sahal” yang artinya mudah, maka beliau berkata, “Urusan kita akan mudah”.  

Dan nama Rasulullah sendiri adalah “Muhammad” yang artinya terpuji, memang demikianlah kenyataannya Rasulullah adalah orang yang paling terpuji. Oleh karena itu, marilah kita beroptimisme dengan nama kita, karena nama adalah suatu harapan dan doa kepada Allah. Bukankah Allah memiliki asma’ wa sifat yang dengannya kita berdzikir, memuji, dan memohon.

Makna Nama “Rihan” 

Kata “Rihan” secara etimologi berasal dari bahasa Arab, dalam Al-Qur’an disebutkan beberapa kata yang merujuk kepada “Rihan”. Misalnya dalam surat Ar-Rahman ayat 12 yang berbunyi wal habbu dzul ’asfi war roihan. Kata Roihan (ريحان) dalam ayat ini maknanya adalah “bunga-bunga yang harum baunya”.  

Kemudian dalam surat Al-Waqi’ah ayat 89 yang nashnya berbunyi fa rouhuw wa roihan wa jannatu na’im. Kata Roihan (ريحان) di sini juga bisa dimaknai dengan rezeki atau bunga-bunga yang wangi.
Ada juga yang mengartikan Roihan sebagai “bau wangi surga”, hal ini karena kata Roihan selalu dihubungkan dengan wanginya surga, entah itu bunga-bunga atau tanaman. Dan bau harum ini juga merupakan kenikmatan dan rezeki yang istimewa di surga. Oleh karena itu, kata Roihan juga bisa diartikan dengan rezeki.

Selasa, 26 Mei 2015

Sejenak Merenungi Makna Hidup

Oleh: Rihan Musadik

Ada saat dimana kita harus merenung di tengah gelombang badai duniawi yang bertubi-tubi, yang membuat lupa sebagian manusia dari kodratnya sebagai makhluk Tuhan yang pada saatnya akan kembali kepangkuan-Nya. Kita sering melupakan bahwa manusia diciptakan ke dunia bukannya tanpa tujuan. Tuhan tidak mungkin menciptakan sesuatu dengan kesia-siaan. Tak lain manusia diciptakan hanya untuk beribadah menyembah hanya kepada-Nya.

Kesibukan mencari duniawi telah membuat lalai sebagian orang, sehingga lebih mengutamakan urusan dunia yang singkat ketimbang urusan akhirat yang kekal. Dulu, ketika masih bujangan dan belum terlalu sibuk, shalat lima waktu di masjid tak pernah telat, baca Al-Qur’an one day one juz bahkan lebih, ngaji ke majelis ta’lim begitu rajin, buku-buku agama makanan sehari-hari, sedekah tak pernah lupa dan besar pula, kepedulian sosial teramat tinggi.

Lalu ketika kerja, mulai ada penurunan ibadah; shalat lima waktu jarang di masjid, baca Al-Qur’an satu lembar per hari (masih mending kadang-kadang nihil), majelis ta’lim seminggu sekali (itu pun pas khutbah Jum’at, sambil tidur pula), sedekah sangat rajin kepada diri sendiri, kepekaan sosial berganti menjadi ketidakpedulian sosial, dan Tuhan pun mulai dilupakan.

Pertanyaannya adalah, apakah pekerjaan kita membuat lupa kepada Tuhan atau menambah dekat kepada-Nya? Bukankah bekerja itu ibadah? Benar sekali, bekerja mencari nafkah untuk keluarga adalah ibadah yang sangat besar dan sangat dihargai dalam agama. Akan tetapi, apakah pekerjaan kita sudah sesuai dengan aturan Allah atau justru malah melanggar? Manusia yang sadar akan kebermaknaan hidupnya di dunia tentu akan merenung, apakah dengan aktivitas atau pekerjaan yang digeluti makin mendekatkan kita kepada Allah atau justru makin menjauhkan kita kepada Allah, lebih parah lagi pekerjaan yang membuka pintu-pintu maksiat.

Di Jalan Cinta

Oleh: Rihan Musadik

Jodoh siapa yang tahu, selekat apapun cintamu pada seseorang, kalau dia memang bukan jodohmu, mau apa lagi. Seputus asa apapun engkau menanti jodoh, menunggu cinta berlabuh, ternyata tak dinyana ketemu juga. Bertemu di tempat yang juga tak kau kira.

Tak disangka pujaan hati datang, lewat pandangan pertama. Benarkah ada cinta lewat pandangan pertama? Dari mata turun ke hati. Awalnya dari saling pandang, tatapan penuh cinta. Yakni cinta naluri seorang laki-laki dan perempuan yang tuna asmara. Dan kita bertanya dalam hati, apa memang kita berjodoh? Apa memang pandangan pertama itu jalan cinta kita?

Tapi cukupkah hanya dengan cinta pada pandangan pertama, dengan saling pandang, saling tatap meski hanya sepintas, lalu berkenalan, dan berjodohlah. Dari yang bukan siapa-siapa, menjadi siapa saya jika tanpamu. Dari yang tidak saling kenal, menjadi orang yang diingat-ingat sepanjang waktu. Bisakah? Mungkinkah?

Lalu kita menjawab dengan pertanyaan pula, apakah Tuhan hanya membatasi jodoh pada link-link di sekitar kita, entah link teman, saudara, atau apa. Link kita hanyalah Allah, biar Tuhan yang mempertemukan lagi mempersatukan cinta kita. Jika Allah menakdirkan pandangan pertama adalah jalan cinta kita, dan itulah karunia. Tapi benarkah itu karunia? Atau mungkin ujian dari Yang Kuasa?

Selasa, 19 Mei 2015

Psikologi Wawancara Kerja

Oleh: Rihan Musadik 

Wawancara kerja, boleh jadi dilaksanakan di awal-awal seleksi, tapi boleh jadi juga di akhir-akhir seleksi, tergantung model perkerutan masing-masing tempat kerja. Sepertinya yang paling banyak dilaksanakan adalah wawancara kerja di akhir-akhir seleksi. Tujuannya, mungkin ingin mengetahui lebih dalam profil atau kepribadian sang pelamar, di samping juga bagaimana semangat kerja, keinginan kerja di tempat tersebut, gaya bicara, kemampuan, dan lain-lain hal. Intinya, pihak pewawancara ingin mengetahui secara umum (bisa juga hal khusus) berbagai hal tentang diri sang pelamar yang dikaitkan dengan apakah tepat bekerja di perusahaan tersebut. Walaupun harus diakui, menilai kepribadian seseorang tidak cukup hanya dengan satu-dua jam wawancara. Akan tetapi, paling tidak ada sedikit gambaran tentang profil umum sang pelamar.

Ada pertanyaan menarik yang berkaitan dengan wawancara kerja, apakah bisa kita mengetahui kepribadian orang yang mewawancarai kita? Kalau berdasarkan pengalaman saya, tentu bisa. Jika kita sedikit cermat dan jeli, kita akan langsung dapat menilai siapa sebenarnya pewawancara kita, bagaimana kepribadiannya, dan seperti apa karakternya. Tentu saja itu hanya penilaian atau gambaran umum saja, siapa tahu bermanfaat jika suatu saat ia menjadi atasan kita. Setidaknya, sang pelamarlah yang justru asyik menerka-nerka kepribadian pewawancara layaknya psikolog ahli yang sedang menilai kepribadian seseorang. Katakan apa yang kamu tanyakan, niscaya aku mengetahui siapa kamu.

Umumnya pelamar akan merasakan grogi, nervous, ataupun deg-deg ser ketika akan melakukan wawancara. Hal ini wajar-wajar saja dan lazim dialami kebanyakan orang. Sebaik apapun mental seseorang pastilah akan sedikit mengalami demam panggung. Terlebih bagi para pemuda yang masih belum matang emosi dan kejiwaannya. Tentu sangat perlu belajar bagaimana meminimalisir rasa khawatir saat akan melakukan wawancara, presentasi, pidato, atau ceramah. 

Sihir Sinetron

Oleh: Rihan Musadik

Saat nonton TV, terutama sinetron alias kisah-kisah bersambung yang begitu digemari oleh banyak kalangan, khususnya oleh ibu-ibu. Mengapa mereka menjadi ketagihan? Seolah-olah penonton dibawa, diajak, dan disentuh sisi kejiwaannya untuk terus mengikuti acara. Bahkan ketika acara selesai, penonton dibuat penasaran bagaimana kelanjutan kisahnya di episode berikutnya. Bagi sebagian orang, mungkin meninggalkan acara sinetron pada saat menonton bisa dilakukan dengan ringan saja. Akan tetapi, bagi para penggemar sinetron rasa-rasanya berat untuk meninggalkan sinetron tersebut. Apalagi pada sinetron-sinetron yang kontennya memang banyak menyuguhkan emotivisme atau emosi-emosi meluap yang membuat penonton ikut terbawa emosi. Dan memang hampir semua sinetron mengedepankan sisi emosional dengan diiringi musik-musik pengantar yang juga emosional.

Sebenarnya kalau kita amati dengan cerdas, isi atau konten acara sinetron sangatlah absurd. Walaupun mungkin kisah atau cerita, latar waktu dan tempat, serta logat bicara mengambil dari adat dan budaya masyarakat, tetap saja absurd. Karena hal-hal detail atau kepingan-kepingan cerita menunjukkan suatu kejadian yang memang absurd. Ditambah lagi ekspresi-ekspresi para pemeran sinetron yang sangat emosional dan berlebihan. Kalau dibandingkan dengan realitas di masyarakat sangatlah jarang ditemukan bentuk-bentuk emosi berlebihan yang ada dalam sinetron. Meski harus diakui pula bahwa sisi emosi yang ada dalam sinetron juga mengambil dari realitas di masyarakat, hanya saja pada sinetron dilebih-lebihkan dan diluap-luapkan, ditambah lagi dengan iringan musik yang pas dengan kejadian sinetron, apakah itu musik sedih, gembira, datar, ataupun humor.

Agaknya, bentuk-bentuk emosi over dari para pemerannya disertai iringan musik inilah yang menjadi nilai jual dari sinetron sehingga memikat hati pemirsa. Oleh karena itu, jika ada orang yang “kagetan” atau “gumunan” dengan suatu hal, ataupun sangat ekspresif dalam bersikap, maka orang-orang menyebutnya sebagai “over acting”. Tentu saja kata over acting adalah kata negatif yang ditujukan pada orang-orang yang berlebihan dalam bersikap, berbicara, berbuat, dan menanggapai suatu hal. Orang Jawa selalu mengatakan pada orang yang over acting, “Biasa wae” yang dalam bahasa anak muda sering dikatakan “Biasa aja”.
 

Perilaku Remaja: Satu Persoalan

Oleh: Rihan Musadik

Bagi orang dewasa atau juga orangtua; memandang remaja sebagai tahap kehidupan yang belum matang dalam menghadapi dan menyikapi persoalan. Tentu saja pandangan ini ada benarnya, walaupun tidak seratus persen benar. Jika kita amati perilaku remaja ketika berkumpul dalam kegiatan olahraga pagi di hari Minggu/libur, akan banyak kita dapati perilaku-perilaku unik yang menunjukkan naluriahnya atau sebut saja ketidakdewasaannya. Terutama menyangkut naluri dengan lawan jenis yang kerap dianggap sebagai “dunia cinta remaja”. Sebetulnya bukan hanya acara jogging minggu pagi, akan tetapi hampir semua acara dimana banyak remaja berkumpul, seperti malam mingguan, konser musik, pameran buku, alun-alun, perpustakaan, dsb.

Berbicara remaja secara umum, tentu berbeda dengan berbicara remaja secara khusus. Pada hal-hal yang umum, kita membahas hal yang menjadi kebiasaan “nakal” para remaja, dan tentu tidak semua remaja adalah nakal dan tidak dewasa. Harus diakui ada beberapa remaja yang pintar, terlihat dewasa, dan “tahu agama”. Sedangkan yang kita bicarakan adalah remaja secara umum dari sisi negatif. Sebab, secara apriori banyak orang yang memandang beberapa perilaku remaja dari sisi kelamnya. Dan memang ini yang lebih santer diberitakan oleh berbagai media jurnalistik.

Terkait perilaku remaja, sebagian orang menganggapnya hal biasa dan lumrah. Sebagian lagi memandangnya tidak lumrah dan tidak sesuai agama. Misalnya pacaran, bermesraan, berdua-duaan, bersepi-sepi, berciuman, berboncengan, pergi bersamaan, merokok, tawuran, nonton video porno, dll. Beberapa contoh ini dianggap hal biasa oleh sebagian orang, mereka mengatakan, “Ah, namanya juga remaja, biarin aja mereka nakal, ntar juga sadar sendiri”. Sebagian lagi menilai perilaku-perilaku ini telah melanggar agama, tidak sesuai budaya timur dengan kearifan lokal seperti rasa malu, sopan santun, dan menjaga diri. Sehingga perilaku demikian harus benar-benar dijauhi.

Kamis, 15 Januari 2015

Nasab atau Silsilah Rihan Musadik

Bani Kasanom (Sokaraja) 
  1. Jalur Ayah dan Kakek ~ Rihan Musadik bin Kustono bin Nakum bin Sanmuhroji bin Prayabangsa
  2. Jalur Ayah dan Nenek ~ Rihan Musadik bin Kustono bin Tukirah binti Yasbari binti Yasmaja bin Kasanom bin... 
  3. Jalur Ibu dan Kakek ~ Rihan Musadik bin Murniati binti Sukhedi bin Yasmaja bin Kasanom bin... 
  4. Jalur Ibu dan Nenek ~ Rihan Musadik bin Murniati binti Sartiah binti Mangun bin... 

Sumber: 
Zainal Qodri. 1992. Silsilah Bani H. Abas dan Kasanom. Semarang: Jalan Tengger.

Sabtu, 27 Desember 2014

Selamat Jalan Sang Profesor

Oleh: Rihan Musadik

Prof. Sukadiyanto (kiri) dan Dr. Panggung Sutapa (kanan)
Mendengar kabar duka meninggalnya Prof. Dr. Sukadiyanto, M.Pd., ketika itu pula saya tersentak hampir tak percaya. Saya dengar kabar itu dari website UNY yang tak sengaja saya akses. Malangnya, saya terlambat beberapa hari mendengar kabar kepergian Sang Guru Besar. Tak lupa saya doakan untuk beliau, mudah-mudahan Allah ampuni segala dosanya, Allah terima amal kebaikannya, dan mudah menjalani hidup di alam sana. Jasa-jasanya akan selalu terkenang bagi insan yang pernah mendapatkan manfaat ilmu dari beliau.

Berperawakan kurus, kecil, dengan jambang dan kumisnya yang khas, serta senyumnya yang mengembang, dan tubuhnya yang tidak tinggi untuk ukuran dosen olahraga yang katanya prima. Mengingatnya, membuat saya terkenang masa-masa kuliah dulu sewaktu beliau mengajar kami. Ketika melihat Sang Guru Besar, sangat tidak nampak dari penampilan fisiknya sebagai dosen olahraga yang dikesankan oleh sebagian orang memiliki tubuh tinggi, bugar, dan atletis. Tapi siapa sangka, di balik perawakannya yang tidak meyakinkan itu, beliau memiliki sikap dan wibawa yang lebih tinggi, jauh di atas dosen lain. 

Minggu, 23 November 2014

Purbalingga Bershalawat, Bersama Habib Syech

Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf
Lantunan shalawat kembali bergema di Purbalingga, diiringi tabuhan rebana dari majelis Ahbabul Mustofa dan pelantun khas Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf. Purbalingga Bershalawat. Demikian jargon beberapa baliho yang terpasang di hari-hari sebelumnya. Dimulai acara dengan sambutan Bupati Purbalingga, Bapak Sukento. Kemudian konser shalawat pun labuh dengan antusias kaum muslimin ahlus sunnah dari berbagai wilayah kabupaten Purbalingga. Ribuan orang berbaju koko, berpakaian putih, peci putih, songkok hitam, sarungan, celana panjang tumpah ruah di tanah lapang alun-alun Purbalingga. Tak kalah para muslimah ahlus sunnah, baik tua, muda, remaja, anak-anak bercampur baur di hamparan alun-alun yang kerap mendapat penghargaan adipura itu. 

Semuanya hanyut dalam kemeriahan shalawat kepada junjungan kita baginda Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam. Lagu shalawat dari Habib Syech dimulai dari Allahu Allah… diteruskan dengan tembang shalawat yang lain, hingga lantunan populer Padhang Bulan yang menambah kemeriahan para jama'ah yang hadir. Meriahnya para jama'ah diiringi tangan-tangan melambai, bendera-bendera kecil dan besar berkibar-kibar, dan ribuan lampu-lampu plastik menjadikan malam shalawat semakin berkesan.

Kamis, 20 November 2014

Pedulilah, Maka Bahagia

Seorang Muslim Harus Membantu Sesama
Membuka catatan semasa kuliah di Jogja, di awal semester tahun 2010. Ketika mengikuti motivasi dari Kang Puji Hartono, seorang motivator muslim dan pebisnis sukses. Di catatan kecilku ada hal menarik yang sempat saya catat. 

Seorang muslim hendaknya peduli terhadap orang lain, jangan egois memikirkan diri sendiri. Seorang ibu yang peduli terhadap anaknya, ia akan berusaha menyelamatkan anaknya ketika kebakaran, ia tak merasa sakit meski kejatuhan sebilah kayu di kepalanya. Seorang ibu tak akan merasakan sakit pada dirinya karena ia peduli dan cinta pada anaknya. Seorang yang peduli dan membantu sesama tidak akan merasakan sakit, kecuali jika ia hanya memikirkan dirinya sendiri. 

Seperti seorang ibu yang tidak merasa sakit karena berusaha menyelamatkan anaknya, meskipun ia tertimpa bongkahan kayu di kepalanya, kobaran api ia terjang, puing reruntuhan tak dipedulikan, demi anak yang dicintai. Akan tetapi, ia baru merasa sakit ketika mulai memikirkan dirinya sendiri, baru merasa ternyata tertimpa kayu di kepalanya.

Oleh karena itu, jangan egois, jangan hanya memikirkan diri sendiri. Pedulilah pada orang lain, bantu sesama, dan cintai mereka, niscaya anda akan bahagia. Teringat pesan Nabi, Allah akan membantu seorang hamba, selama hamba itu masih membantu sesamanya.

Satu lagi kutipan yang sempat saya catat dari beliau. Tidak ada yang bisa menyakiti kita, tidak ada yang bisa membuat kita marah, tidak ada yang bisa membuat kita tersinggung dan sakit hati, kecuali jika kita mengizinkan hal itu pada diri kita. Allahu akbar. Semoga bermanfaat.

Jumat, 07 November 2014

Refleksi Kematian

Kematian adalah kepastian. Mungkin ada segelintir orang yang tidak percaya adanya Tuhan, tidak percaya ada kehidupan setelah mati. Tapi satu hal yang semua orang akan sepakat, yakni adanya kematian. Semua makhluk di bumi, pasti pada saatnya akan mengalami kematian. Semua orang percaya kematian adalah suatu keniscayaan yang tak dapat dielakkan, sebab mereka membukti- kan sendiri, bagiamana orang yang dahulunya hidup, hari ini telah tiada. Orang yang hari ini masih sehat, beberapa waktu telah mangkat. Sehingga semua orang dapat dipastikan akan percaya adanya kematian. Akal sehat sangat tidak mungkin menolak kepastian akan adanya kematian bagi makhluk di bumi ini.

Pertanyaan selanjutnya untuk kita renungkan bersama, apakah kita benar-benar percaya dan yakin akan adanya kematian yang semua manusia pasti akan mengalaminya? Logika kita pasti mengatakan kematian adalah hal yang mesti terjadi, akan tetapi perbuatan kita sehari-hari seringkali menunjukkan bahwa kita tidak percaya kematian. Mengapa demikian? Mari kita cermati kehidupan sehari-hari kita. Betapa manusia disibukkan oleh pekerjaan, mencari harta, jabatan, pangkat, wanita, kehormatan, dan pujian manusia. Sementara bekal setelah kematian dilupakan, kewajiban pada Tuhan ditinggalkan, perintah-Nya diabaikan, larangan-Nya justru malah dilakukan. Apakah ini tidak mencerminkan bahwa seolah-olah kita tidak percaya kematian? Kita lupa, seolah-olah hidup di dunia ini segalanya. Seolah-olah hidup di dunia ini akan abadi sehingga hanya sibuk urusan duniawi sementara urusan akhirat dinomorduakan.

Rabu, 05 November 2014

Tiga Orang Syaikh di Masjid Madinah Jawa

Syaikh Adil bin Salim al-Kalbani dan Syaikh Ali Jabeer
Pada hari Rabu, 12 Muharram 1436 H (kalender hijriyah) yang bertepatan dengan hari Selasa, 4 November 2014 (kalender masehi), artinya masih di awal tahun baru Islam 1436 H, kabupaten Purbalingga kedatangan tiga orang Syaikh dari Saudi Arabia, yaitu Syaikh Ali Jabeer, Syaikh Adil bin Salim al-Kalbani, dan Syaikh Amir. Yang pertama, Syaikh Ali Jabeer, beliau sudah lama mukim di Indonesia, kemungkinan sejak 2008, sesuai yang beliau katakan, yaitu beliau sejak 2008 terus memperjuangkan penghafal-penghafal Al-Qur’an terus berkembang di Indonesia, membumikan Al-Qur’an, juga menyebarkan Al-Qur’an kepada tuna netra di Indonesia yang notabene merupakan negara dengan tuna netra terbanyak di dunia. Yang kedua, Syaikh Adil bin Salim al-Kalbani, beliau adalah salah seorang Imam Besar Masjidil Haram dari 12 imam yang ditugaskan menjadi imam di masjid terbesar di dunia itu. Sedangkan yang ketiga adalah Syaikh Amir, yang penulis dengar beliau adalah salah satu ajudan Imam Masjidil Haram.

Pukul 17.30 WIB, saya dan ibu berangkat ke Masjid Agung Darussalam Purbalingga untuk menghadiri majelis ketiga Syaikh yang mulia tersebut rahimahumullahu ta’ala. Sampai di sekitar lokasi, terlihat halaman masjid yang biasanya menjadi tempat untuk parkir, sekarang terpenuhi dengan jama’ah akhowat. Maka, saya pun parkir kendaraan di pinggiran jalan raya. Belum lagi adzan maghrib dikumandangkan, seisi masjid sudah hampir penuh oleh para jama’ah yang sudah hadir sedari tadi. Awalnya saya kebingungan, hendak menempatkan diri dimana, sementara terlihat ruang utama masjid penuh. Saya pun nekat memberanikan diri masuk masjid di sela-sela deret para jama’ah yang tengah duduk bershaf-shaf. Hingga adzan berkumandang, saya tetap berdiri, karena ketika semua jama’ah berdiri pasti akan banyak ruang yang kosong.

Sabtu, 13 September 2014

Katakanlah dengan Jelas dan Lengkap, Jangan Sepotong

Adakalanya ketika kita memerlukan sesuatu pada seseorang, lembaga, atau instansi; kita diharuskan untuk mengucapkannya dengan jelas. Karena terkadang sebuah perkataan yang kurang jelas, bahkan hanya kurang beberapa kata saja bisa mengakibatkan mis komunikasi atau salah persepsi dari pihak yang kita ajak bicara. Hal ini seperti yang saya alami sendiri tatkala hendak mengambil legalisir KTP di kantor kecamatan. Sebenarnya saya datang ke kantor tersebut pada hari Kamis, lalu karena Pak Camat sedang pergi, maka saya mengambil esok harinya. Tiba keesokan harinya pada hari Jum’at, saya kembali datang ke kantor kecamatan dan segera menemui petugas loket. Saya bilang, “Bu, mau ambil legalisir KTP”. “Sebentar ya Mas, tunggu dulu,” kata ibu petugas loket. Akhirnya saya duduk di tempat yang telah disediakan. Lama saya menunggu, sementara orang lain yang datang belakang sudah selesai urusannya. Saya bertanya dalam hati, “Lama betul, kenapa nama saya tak kunjung dipanggil, sementara orang lain sudah dipanggil namanya”. 

Akhirnya saya putuskan untuk bertanya lagi, “Bu, mau ambil legalisir KTP yang kemarin”. Barulah si ibu itu segera melayani, “Oh, yang kemarin ya Mas”. Diambilkanlah legalisir KTP-ku yang sudah beres. Selesai sudah masa penungguan yang hampir makan waktu satu jam. Segera saya pulang dengan sedikit emosi, tapi ada pelajaran yang bisa saya dapat. Berkatalah dengan jelas, lengkap, dan jangan sepotong-sepotong, agar pihak yang kita ajak bicara segera paham. Ya Allah, hanya kurang beberapa kata saja saya ucapkan, hingga membuat saya rela menunggu lama. Padahal jika saya mengatakan dengan lengkap, niscaya tinggal saya ambil legalisir KTP yang telah kelar itu. 

Terbesit lagi dalam hatiku pada saat perjalanan pulang, “Andai saja tadi aku katakan, ‘mau ambil legalisir KTP yang kemarin’ dan tidak sekedar mengatakan ‘mau ambil legalisir KTP’, niscaya tak akanlah saya menunggu lama, hanya kurang dua kata, ‘yang kemarin’, ternyata bisa merugikanku, oh, Tuhan”. Akan tetapi, di dalam kedongkolanku akhirnya saya sadar dan harus menerima kejadian menjengkelkan itu dengan ikhlas dan lapang dada. Bukankah Rasulullah telah bersabda, "Apabila engkau tertimpa sesuatu (yang tidak menyenangkan) janganlah engkau berkata, 'Seandainya aku dulu berbuat begini, niscaya akan menjadi begini dan begitu'. Akan tetapi katakanlah, ‘Qadarullahi maa syaa’a fa’ala (Allah ta'ala telah menakdirkan, terserah apa yang diputuskan-Nya)'. Karena perkataan lau (seandainya)’ dapat membuka celah perbuatan setan". Subhanallah.


Purbalingga, 13 September 2014 

Selasa, 12 Agustus 2014

Meninggalkan Kampung Kepuh, Samirono

Hari Minggu, tepatnya pada tanggal 10 Agustus 2014, saya harus merelakan untuk meninggalkan Yogyakarta, terutama kampung Kepuh, pedukuhan Samirono. Di situlah saya tinggal selama kurang lebih empat tahun. Barang-barang kost diangkut semuanya ke dalam mobil Daihatsu Zebra yang kami bawa dari Purbalingga bersama ibu, kakak, dan saudara sepupuku sehari sebelumnya. Beberapa warga yang saya temui berjabat tangan denganku, saya mohon pamit hendak meninggalkan kampung Kepuh ini, karena studi S-1 saya sudah selesai. Semalam sebelumnya saya sempat bersilaturahmi ke rumah Bapak Kost, karena memang masih suasana lebaran Idul Fitri, beberapa jama'ah mushola juga sudah saya salami. Pemilik warung makan di sebelah kostku juga sudah saya salami untuk pamit pulang, juga dengan beberapa warga yang kebetulan saya temui di jalan.

Rasanya sedih sekali hendak melepas kepergian dari kampung Kepuh ini, empat tahun saya tinggal di kampung ini untuk menyelesaikan kuliah S-1 di UNY. Apalagi karena memang saya sudah akrab dengan warga sekitar terutama jama'ah mushola yang hanya beberapa langkah dari kostku. Di samping itu, karena memang ada seorang wanita yang di akhir semester sempat mencuri perhatianku, lewat “curi-curi pandang”. Tapi entah kenapa, rasanya bahasa hati bisa berkomunikasi meski lisan tidak saling bercakap. Sehingga tatkala saya hendak pulang dan pamit, dari matanya tampak pancaran kerinduan yang tak sempat diucap. Begitulah kata para ulama, dari mata turun ke hati, itulah wanita, yang kata beberapa orang, racun dunia, virus cinta, dan sebagainya. Maka tak salah jika Allah memerintahkan kita sebagai seorang muslim untuk menundukkan pandangan, dan Rasul pun pernah bersabda bahwa fitnah terbesar adalah wanita. Di lain waktu, beliau juga mewanti-wanti untuk tidak terus memandangi wanita yang bukan muhrim, palingkan pandanganmu, karena pandangan kedua dan seterusnya itu nafsu dan dosa.

Selasa, 24 Juni 2014

Aku dan Mimpi-Mimpiku (Otobiografi Singkat)

Nama saya Rihan Musadik, biasa dipanggil Rihan. Saya lahir pada 25 Januari 1991 di Barabai, Kalimantan Selatan. Orangtua saya asli Jawa dan saat ini usiaku 21 tahun. Saya tumbuh dan berkembang dari keluarga yang sederhana dan biasa-biasa saja. Alhamdulillah, keluargaku taat beragama dan itu sangat saya syukuri. Saya dibesarkan di Purbalingga. Di sanalah saya sekolah, belajar, dan mulai mengenal tentang hidup. Di kota ini aku mengikuti sebuah klub taekwondo satu-satunya di Purbalingga. Saya berlatih taekwondo sejak SMP, sempat berhenti memang, tapi mulai kelas 3 SMP saya lanjutkan kembali sampai sekarang. Saya berlatih keras hingga banyak prestasi yang aku dapatkan, mulai dari tingkat karesidenan, provinsi, bahkan pernah menjadi Juara Nasional dan sempat berlatih di Pelatda (Pelatihan Daerah) untuk mewakili Jawa Tengah mengikuti Kejurnas antar provinsi, sekaligus seleksi Kejuaraan Dunia di Turki. Namun sayangnya, aku gagal pada babak penyisihan dan itu membuatku sangat kecewa. Lama-lama aku mulai belajar dan menyadari tentang kekalahanku dan mulai meninggalkan rasa kecewaku di masa lalu. Aku terus bangkit mengikuti beberapa kejuaraan di tingkat senior, meskipun banyak mengalami kemunduran, tidak sejaya saat aku di yunior.

Lulus dari SMA, tepatnya aku sekolah di SMK YPT PURBALINGGA 2, sempat berhenti selama satu tahun, hingga akhirnya aku kuliah di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), di Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK), program studi Pendidikan Kepelatihan Olahraga (PKO), dan lagi-lagi cabang kepelatihanku taekwondo. Di Yogyakarta aku terus belajar, mencari, berusaha, dan berdoa untuk menjadi orang sukses, walaupun aku tak tahu, Tuhan punya rencana apa buatku. Tapi, yang jelas aku sudah punya ancang-ancang untuk menjadi guru olahraga dan pelatih taekwondo sesuai bidang kuliahku. Alih-alih keinginan untuk menjadi guru olahraga, ternyata saya juga ingin sekali menjadi di atasnya guru, apa itu? Yaitu dosen. Kalau Allah ta'ala berkenan dan menghendaki itu, semua pasti dapat tercapai.

Senin, 28 April 2014

Di Balik Skripsi S-1

Selesai Ujian Skripsi, Berfoto Bersama Teman
Di cover atau halaman sampul skripsi S-1 tertulis tujuan penyusunan skripsi, yang intinya sebagai salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar sarjana. Tapi tahukah anda? Bahwa dalam proses penyusunan skripsi ini, mulai dari pembuatan proposal hingga ujian berakhir, banyak hikmah dan pelajaran yang bisa kita petik. Ketika kita mulai mendiskusikan judul atau permasalahan penelitian dengan dosen pembimbing, ternyata masalah atau judul tersebut dianggapnya sudah terlalu sering, pasaran, kurang bermutu, kurang berkualitas, tidak relevan, variabelnya kurang, dan segala macam komentar; tentu sebagai seorang pembelajar yang baik harus kita terima dengan lapang dada.

Adakalanya seorang mahasiswa mendapat judul atau masalah penelitian dari sang dosen, hal ini tentu saja sangat menguntungkan. Kemudian pada saat proposal selesai dibuat, sejenak kita menganggapnya—bagi yang perfeksionis—sudah fix, clear, tuntas tanpa revisi. Tapi ternyata ada saja revisi atau perbaikan dari dosen, di sini kita diajarkan untuk memiliki sikap kerendahan hati inteleketual. Bahkan ketika ujian atau sidang skripsi selesai dilaksanakan, masih saja ada yang namanya revisi, lagi-lagi kita diajarkan untuk selalu menanam kerendahan hati intelektual, rasa-rasanya mahasiswa tingkat akhir memang tidak akan lepas dari yang namanya revisi.

Senin, 23 Desember 2013

Pengajian dan Sosialisasi DMI

Logo DMI (Dewan Masjid Indonesia)
Alhamdulillah saya mengawali hari ini dengan shalat shubuh berjama'ah, dan menjalani hari Senin ini (23/12/2013) dengan hati yang ceria. Pada sore harinya saya berangkat ke masjid Manhajul Hidayah Samirono untuk melaksanakan shalat jama'ah di situ, karena sekalian ngaji hadits dengan Habib Sayyidi bin Abdurrahman Baraqbah. Sepulang dari masjid Manhajul Hidayah, di halaman depan kostku sudah ada beberapa orang di tratag untuk pengajian yang sudah disiapkan sejak siang tadi. Kebetulan kostku satu halaman dengan mushola Ar-Rahmat, dan malam itu sedang diadakan acara pengajian sekaligus sosialisasi DMI (Dewan Masjid Indonesia) Kecamatan Gondokusuman. Saya memilih mendengarkan pengajian dari kamar kost saja, dan puji Tuhan saya disuguhi snack oleh Pak Midun salah satu jama'ah mushola Ar-Rahmat yang juga sedang menjadi panitia acara tersebut.

Acara dibuka oleh Bapak Sukiman salah satu jama'ah sekaligus pengurus takmir mushola Ar-Rahmat yang sudah lama saya tahu. Kemudian turut hadir dalam acara tersebut, Ketua DMI Kecamatan Gondokusuman, Ketua DMI Kelurahan Klitren, dan tokoh ulama Samirono KH. Drs. Muhammad Nawawi, M.Si. Acara dihadiri oleh jama'ah mushola Ar-Rahmat dan juga warga Samirono, khususnya Kelurahan Klitren, Dusun Kepuh. Sambil menunggu sambutan-sambutan, saya yang berada di kamar kost sembari menikmati kopi panas dan snack. Sebelumnya telah dilantunkan bacaan Al-Qur’an oleh salah seorang qari’ yang bacaannya sungguh indah.

Minggu, 22 Desember 2013

Jurnal Rasa Syukur - Periode Agustus 2013

Kamis, 1 Agustus 2013 
  1. Aku bersyukur bisa berjalan dengan sehat dan bahagia menuju sahur
  2. Aku bersyukur bisa beribadah dengan baik dan khusyu'
  3. Aku bersyukur bisa nonton film
  4. Aku bersyukur bisa tersenyum bahagia
  5. Aku bersyukur bisa tertidur nyenyak
  6. Aku bersyukur bisa mendirikan shalat dhuha
  7. Aku bersyukur bisa mendirikan shalat lima waktu
  8. Aku bersyukur bisa mendirikan shalat tahajjud
  9. Aku bersyukur bisa mendirikan shalat rawatib, shalat tarawih, shalat witir
  10. Aku bersyukur bisa berdzikir, berdoa, dan membaca Al-Qur’an
  11. Aku bersyukur bisa mendengarkan lantunan ayat-ayat Al-Qur’an
  12. Aku bersyukur bisa mendendangkan lagu
  13. Aku bersyukur rem depan bisa diperbaiki di bengkel
  14. Aku bersyukur bisa mengayuh kompos dengan baik dan menikmatinya
  15. Aku bersyukur bisa melihatmu dan tersenyum bersamamu
  16. Aku bersyukur bisa bermain PES
  17. Aku bersyukur bisa segera menyadari kesalahanku dan mengevaluasi diri
  18. Aku bersyukur bisa buka bersama dengan teman-teman PKO-B
  19. Aku bersyukur bisa tadarus Al-Qur’an
  20. Aku bersyukur bisa menikmati banyak rezeki dan makanan
  21. Aku bersyukur bisa menikmati hidup
  22. Aku bersyukur bisa menerima segala sesuatu dengan ikhlas
  23. Aku bersyukur bisa menerima ketentuan Allah
  24. Aku bersyukur bisa menyadari kelemahan dan kelebihan diri
  25. Aku bersyukur bisa mensyukuri apa yang ada, apa yang aku alami
  26. Aku bersyukur masih diberi kekuatan iman, Islam, dan istiqomah
  27. Aku bersyukur masih diberikan kesehatan untuk melakukan aktivitas
  28. Aku bersyukur bisa mendengarkan ceramah di masjid dan ceramah KH. Anwar Zahid
  29. Aku bersyukur bisa mempersiapkan materi kultum dengan baik
  30. Aku bersyukur bisa menuliskan rasa syukurku kepada-Mu Ya Allah…
  31. Aku bersyukur bisa melihat-lihat foto
  32. Aku bersyukur bisa menerima diri apa adanya

Sabtu, 21 Desember 2013

Jurnal Rasa Syukur - Periode Juli 2013

Selasa (30 Juli 2013) dan Rabu (31 Juli 2013)
  1. Hari Selasa aku bersyukur, masih diberi keselamatan dalam perjalanan menuju Graulan, meski rem depan sempat putus, dan hampir menabrak motor.
  2. Aku bersyukur masih diberi hidup
  3. Aku bersyukur diberi kesehatan
  4. Aku bersyukur bisa tersenyum bahagia
  5. Aku bersyukur diberi kenikmatan dalam beribadah
  6. Aku bersyukur bisa berbicara, melihat, merasa, dan mendengar
  7. Aku bersyukur bisa berjalan tegap
  8. Aku bersyukur diberi kesehatan tubuh yang sempurna
  9. Aku bersyukur bisa menikmati indahnya musik
  10. Aku bersyukur bisa mendengar lantunan ayat-ayat Al-Qur’an
  11. Aku bersyukur diberi rezeki melimpah
  12. Aku bersyukur bisa mendapat lokasi KKN di Graulan
  13. Aku bersyukur hidup bahagia di rumah Bu Rohyanti, dan posko KKN dekat masjid
  14. Aku bersyukur diberi tubuh yang lengkap dan sempurna
  15. Aku bersyukur bisa kuliah di UNY dengan lancar
  16. Aku bersyukur diberi kecerdasan dan kepintaran
  17. Aku bersyukur bisa beriman, berislam, dan istiqomah
  18. Aku bersyukur bisa menulis jurnal rasa syukur
  19. Aku bersyukur bisa mensyukuri nikmat-Mu
  20. Aku bersyukur bisa membawa sepeda motor
  21. Aku bersyukur bisa berpikir positif
  22. Aku bersyukur bisa berpersaan postif
  23. Aku bersyukur bisa sabar, ikhlas, dan bersikap baik
  24. Aku bersukur bisa mengayuh gilingan kompos dengan kuat
  25. Aku bersyukur bisa merasakan panas dan dingin
  26. Aku bersyukur bisa menikmati nonton film
  27. Aku bersyukur bisa menuliskan sesuatu
  28. Aku bersyukur punya laptop bagus
  29. Aku bersyukur punya keluarga yang bahagia
  30. Aku bersyukur masih diperhatikan orang

By Rihan Musadik

Selasa, 08 Oktober 2013

Menyikapi Fenomena Vickynisasi

Oleh: Rihan Musadik 

Wabah Vickynisasi Mulai Merebak
Beberapa waktu yang lalu, masyarakat dibuat heboh oleh kemunculan Vicky Prasetyo ‘sang intelek abal-abal’ dengan gaya bicaranya yang sangat tidak lazim. Pria yang memilki nama asli Hendriyanto ini menjadi terkenal lewat berita-berita infotainment di televisi setelah kegagalan hubungan cintanya dengan pedangdut Zaskia Gothik, karena dianggap telah melakukan banyak kebohongan dan penipuan. Dan menjadi heboh lagi tatkala video berdurasi singkat muncul di situs youtube, yaitu pada saat diwawancarai sewaktu acara tunangannya yang cukup mewah dengan Zaskia Gothik.

Video ini baru muncul ketika banyak diketahui—lewat infotainment—alias terbongkar kedok Vicky yang dikatakan sering melakukan kebohongan, kamuflase, atau hipokrit. Karena ada beberapa wanita yang mengaku pernah menjadi korban kebohongannya Vicky, begitu pula ada beberapa teman SMA Vicky dan juga orang-orang yang mengetahui Vicky, banyak yang membeberkan sisi negatifnya.
 
Nah, ditambah lagi dengan gaya bicaranya yang asal-asalan dan tidak sesuai pada tempatnya ini, terekam dalam beberapa video. Contohnya saja, Vicky banyak menggabungkan kata-kata yang konteksnya berbeda alias tidak relevan dan tidak lazim, lalu disambungkan dengan kata-kata yang lain. Begitu pula bahasa Inggrisnya yang sangat ngawur alias tidak terpola. Mungkin ia ingin menunjukkan eksistensi dirinya sebagai seorang intelek, tapi kenyataannya sangat jauh panggang daripada api. Malang tak dapat ditolak, ia justru tercoreng nama baiknya karena tindakan buruknya selama ini dan gaya bahasanya yang aneh. Ia malah justru dianggap “intelek abal-abal”, bahkan ada yang mengatakan logikanya sudah parah.