Minggu, 20 Mei 2012

Kebahagiaan

Aku merengkuh kebahagiaan
tak kudapatkan dari keluhan
aku mencari kebahagiaan
Karena terkadang memang hilang
tak kutemukan pada kegelisahan

Aku terus mancari dan mencari tanpa henti
Dia hanya ada pada cinta dan kasih sayang

Aku juga melihat kebahagiaan
pada senyuman manis seorang wanita
Senyuman indah yang memancar
Dari hati yang indah pula

Dari hati yang juga dipenuhi rasa syukur dan bahagia
Hingga wajahnya pun berseri-seri
hingga aku pun yang melihat ikut berseri
merasakan kebahagiaan yang memancar 


Rihan Musadik
Yogyakarta, 18 Mei 2012

Sabtu, 05 Mei 2012

Bagaimana Cara Menjadi Pengusaha?

 Oleh: Sandiaga S. Uno

Sandiaga Shalahudin Uno
Akhir-akhir ini kecenderungan untuk menjadi pengusaha terasa meningkat ditandai dengan adanya berbagai pelatihan bisnis dan munculnya berbagai lembaga yang menyediakan diri untuk mendorong dan melatih seseorang menjadi pengusaha.

Hal ini merupakan perkembangan yang sangat menggembirakan. Semakin banyak pengusaha, maka semakin banyak lapangan kerja yang tersedia dan semakin banyak pengangguran yang bisa diserap. Saat ini pengangguran di Indonesia telah mencapai angka 11 juta. Jika kita asumsikan setiap usaha merekrut setidaknya 2 pegawai, maka jika tumbuh 1 juta pengusaha, akan tersedia 2 juta lapangan kerja. Dengan adanya pengusaha, pemerintah akan terbantu untuk menyediakan lapangan kerja. Kita tahu bahwa pemerintah juga memiliki keterbatasan. Munculnya pengusaha akan sangat membantu pemerintah.

Jumat, 04 Mei 2012

Bidadari Berkerudung Kuning

Pagi hari tadi
dengan bersinarkan cahaya kebahagiaan
dari pancaran kehangatan mentari

Aku lihat hingga siang datang
perempuan bertutupkan kerudung kuning
dari universitas sebrang

Bagaikan bidadari
teramat cantiknya
hingga malam sebelumnya
Aku sempat bermimpi
tentang perempuan yang menungguku


Rihan Musadik
Yogyakarta, 28 Mei 2012

Jumat, 13 April 2012

Athlete First Winning Second or Winning First Athlete Second

Pendahuluan

Membaca sekilas judul di atas, kita menjadi bertanya-tanya, sebenarnya apa maksud dari judul artiklel tersebut. Secara mudah, athlete first winning second, winning first athlete second dapat diterjemahkan ‘atlet pertama kemenangan kedua, kemenangan pertama atlet kedua’. Perlu diketahui bahwa memang dalam konteks kekinian, tujuan seorang pelatih dan atlet menjalani proses latihan selalu berkaitan dengan usaha untuk mencapai prestasi yang optimal. Tetapi harus juga diingat bahwa seorang atlet bukanlah robot yang siap diperintah begitu saja, tanpa melihat bahwa atlet juga seorang manusia yang memiliki perasaan, pikiran, dan emosi yang sangat mempengaruhi dalam proses latihan.

Manusia merupakan satu totalitas sistem psiko-fisik yang kompleks, artinya adalah keberadaan manusia sebagai anak latih dalam proses latihan tidak dapat diperlakukan seperti robot, yang harus menuruti setiap perintah dari pusat tombolnya, tetapi manusia juga memiliki jiwa yang sangat peka terhadap beban latihan (Sukadiyanto, 2009: 2). Dari sini seorang pelatih dituntut untuk melihat lebih jauh sisi kemanusiaan pada diri seorang atlet. Lazimnya para pelatih menganggap bahwa tujuan utama dari melatih anak latihnya yaitu agar atlet tersebut mampu berprestasi semaksimal mungkin, tetapi terkadang pelatih lupa seorang atlet juga memiliki “beban” di luar beban latihan.

Sabtu, 31 Maret 2012

Kiat-Kiat Sukses Menjadi Wasit Taekwondo

Pendahuluan

Wasit adalah orang yang memiliki kemampuan dalam memimpin jalannya suatu pertandingan dari awal sampai akhir pertandingan dengan penuh disiplin, jujur, tegas, adil, tanpa memihak salah satu kontingen. Peran wasit amatlah penting dalam suatu pertandingan olahraga apapun, karena tanpa wasit pertandingan akan kacau, tidak ada yang mengatur, tidak ada yang memimpin dan tidak ada yang memutuskan kalah dan menang. Oleh karena itu, suatu pertandingan olahraga tidak akan berjalan dengan baik atau bahkan sama sekali tidak berjalan tanpa adanya seorang wasit yang memimpin pertandingan.

Sebenarnya peran apa saja yang dapat dilakukan wasit dalam memimpin pertandingan. Menurut Agung Nugroho (2011: 4), dalam memimpin jalannya pertandingan wasit dapat berperan sebagai:
  1. Pemimpin, yaitu dapat menguasai atlet, pelatih, dan penonton dalam memimpin jalannya pertandingan
  2. Polisi, yaitu menghentikan, memberikan pembinaan, teguran, serta peringatan kepada atlet yang bersalah
  3. Hakim, yaitu memberi hukuman kepada atlet yang melakukan pelangaran
  4. Penyelamat, yaitu menghentikan pertandingan (bila atlet keluar arena pertandingan, terjadi cedera panggil dokter, arena licin, dll.)
  5. Guru, yaitu membimbing atlet supaya bermain dengan sportif, fairplay dengan cara selalu membina para atlet
  6. Model (teladan atau panutan) yang dapat dijadikan contoh, yaitu memiliki sikap, suara, watak, ketegasan, kesabaran, gerakan, ataupun langkah yang benar dan rapi. Wasit dapat memberikan kepercayaan bagi atlet, pelatih, maupun penonton.
Dari penjelasan di atas, kita menjadi tahu begitu pentingnya peran dan tugas wasit dalam suatu pertandingan olahraga. Karenanya seorang wasit harus memiliki bekal dan kompetensi yang diperlukan agar pertandingan dapat berjalan dengan baik dari awal sampai akhir, begitu pula untuk berprofesi di bidang perwasitan, alangkah baiknya kita mengetahui kiat-kiat sukses menjadi wasit yang profesional. Pada makalah ini penulis akan memberikan kiat-kiat sukses menjadi wasit yang profesional di cabang olahraga taekwondo, mulai dari cara, kompetensi yang diperlukan, sikap, ilmu pendukung, dll.
 
Kiat-Kiat Sukses Menjadi Wasit Taekwondo

Taekwondo dapat dikategorikan ke dalam cabang olahraga beladiri, secara umum kejuaraan taekwondo dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: kyorugi (pertarungan) dan poomse (rangkaian jurus). Pada kejuaraan poomse tidak ada peran wasit, yang ada hanya beberapa juri yang memberikan nilai pada peserta, baik nomor tunggal ataupun beregu. Sedangkan pada kyorugi, peran wasit sangatlah penting, karena benar-benar harus memimpin dan mengatur dua atlet yang bertanding (bertarung). Untuk menjadi seorang wasit taekwondo harus memenuhi beberapa persyaratan di bawah ini:
  1. WNI yang baik, dan berdedikasi tinggi
  2. Berbadan sehat dan fisik normal
  3. Pendidikan minimal lulus SMA atau sederajat
  4. Sabuk hitam minimal DAN I
  5. Lulus dalam penataran perwasitan sesuai dengan jenjang yang diikuti
  6. Lulus tes fisik, psikologis sesuai dengan standar minimal yang ditentukan
  7. Usia minimal 20 tahun
Semua persyaratan ini harus dipenuhi, karena menjadi seorang wasit taekwondo bukan perkara yang mudah, sebab wasit harus mampu memimpin setiap pertandingan hingga beberapa ronde. Untuk itu sangat diperlukan badan yang bugar (tidak sakit) dan mental yang kuat agar tetap dapat memimpin jalannya pertandingan dengan maksimal. Lalu dalam taekwondo syarat menjadi wasit adalah minimal sabuk hitam DAN I, karena seorang wasit harus mengetahui seluk-beluk tentang taekwondo, filosofi, dan teknik-tekniknya.

Minggu, 25 Maret 2012

Angin di Masjid

Dalam masjid sepi
lengang menyepi

semilir angin berhembus kencang
bagai tiupan dari gunung kesepian nan jauh di sana

selimuti tubuh ini
tubuh yang semakin digerogoti waktu

dan tiba-tiba
suara menyentak sentuh kalbu
Bangunkan kesadaran tanpa sebuah awalan

 Yogyakarta, 23 Maret 2012
Jum'at sore di masjid

Kamis, 22 Maret 2012

Pengaruh Acara Televisi Terhadap Karakter Anak

 Oleh: Rihan Musadik

Beberapa waktu yang lalu, saya mengikuti diskusi ilmiah yang rutin diadakan seminggu sekali, setiap hari Jum’at di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Pemateri dalam diskusi tersebut adalah Dr. Muqowim, M.Ag sebagai dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan. Dan seperti biasa diskusi tersebut dimoderatori oleh Prof. Dr. H. M. Abdul Karim, MA sebagai salah satu guru besar di UIN Sunan Kalijaga. Selain itu, juga dibersamai oleh Dr. Damami selaku dosen senior yang selalu mendampingi serta memberikan komentarnya terkait diskusi tersebut. Materi hari itu sangat menarik, berbicara tentang pendidikan karakter. Dengan judul makalah “Model Pendidikan Karakter dengan Pendekatan Living Values Education (LVE)”.

Saya melihat akhir-akhir ini memang karakter, nilai-nilai moral atau kearifan lokal mulai memudar di masyarakat, khususnya pada anak-anak dan para pemuda yang notabene kita anggap sebagai generasi penerus bangsa. Kalau saya perhatikan, penyebab dari degradasi moral tersebut adalah “krisis keteladanan”. Artinya, anak-anak dan para pemuda kehilangan atau kebingungan dalam memilih sosok dan model yang dapat dijadikan teladan dalam berperilaku dan bertindak dalam konteks kehidupan sehari-hari. Mereka seakan-akan tidak tahu apa dan siapa yang patut dijadikan contoh dan teladan dalam hidupnya.