Kamis, 22 Maret 2012

Pengaruh Acara Televisi Terhadap Karakter Anak

 Oleh: Rihan Musadik

Beberapa waktu yang lalu, saya mengikuti diskusi ilmiah yang rutin diadakan seminggu sekali, setiap hari Jum’at di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Pemateri dalam diskusi tersebut adalah Dr. Muqowim, M.Ag sebagai dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan. Dan seperti biasa diskusi tersebut dimoderatori oleh Prof. Dr. H. M. Abdul Karim, MA sebagai salah satu guru besar di UIN Sunan Kalijaga. Selain itu, juga dibersamai oleh Dr. Damami selaku dosen senior yang selalu mendampingi serta memberikan komentarnya terkait diskusi tersebut. Materi hari itu sangat menarik, berbicara tentang pendidikan karakter. Dengan judul makalah “Model Pendidikan Karakter dengan Pendekatan Living Values Education (LVE)”.

Saya melihat akhir-akhir ini memang karakter, nilai-nilai moral atau kearifan lokal mulai memudar di masyarakat, khususnya pada anak-anak dan para pemuda yang notabene kita anggap sebagai generasi penerus bangsa. Kalau saya perhatikan, penyebab dari degradasi moral tersebut adalah “krisis keteladanan”. Artinya, anak-anak dan para pemuda kehilangan atau kebingungan dalam memilih sosok dan model yang dapat dijadikan teladan dalam berperilaku dan bertindak dalam konteks kehidupan sehari-hari. Mereka seakan-akan tidak tahu apa dan siapa yang patut dijadikan contoh dan teladan dalam hidupnya.

Selain itu media televisi juga banyak menyuguhkan siaran yang tanpa disadari ikut berkontribusi dalam memberikan efek negatif kepada anak. Setiap hari kita dipertontonkan dengan sinetron-sinetron, infotainment, berita-berita, dan iklan-iklan televisi yang seringkali tidak kita sadari sangat berpengaruh terhadap moral dan karakter seorang anak. Bagaimana tidak berdampak buruk, dari acara-acara tersebut setiap hari anak melihat ekspresi kemarahan, kekecewaan, kegagalan, dan frustrasi dalam bentuk yang negatif. Seolah media televisi mengajarkan seperti itulah gambaran dan ekspresi orang marah, kecewa, gagal, dan putus asa yang boleh jadi hal tersebut akan ditiru oleh anak yang melihat.

Dan lebih parahnya lagi orangtua ikut menonton acara-acara tersebut tanpa melihat efek negatif pada anak. Akan lebih baik jika para orangtua ikut membimbing dan memilihkan acara yang cocok bagi buah hatinya, yang di dalamnya terdapat nilai-nilai pendidikan yang bermanfaat dan dapat dijadikan contoh dan model pembelajaran bagi anak. Untuk itu perlu adanya warning terhadap acara-acara televisi bagi buah hati kita. Lalu jika orangtua sedang tidak ada di rumah, anak-anak diingatkan bahwa acara-acara televisi tertentu cocok bagi dirinya atau tidak. Ini dapat dilihat dari tulisan singkat di televisi, yaitu SU (Semua Umur), BO (Bimbingan Orangtua), R-BO (Remaja dan Bimbingan Orangtua), Remaja dan Dewasa.

Apabila nilai-nilai budi pekerti terus diajarkan dan dicontohkan pada anak, serta orangtua turut membimbing dan mendidik anak dalam konteks acara-acara televisi maupun berbagai hal yang mengandung nilai edukasi, maka dapat dimungkinkan lambat laun nilai-nilai moral tersebut akan terinternalisasi pada diri anak, yang akhirnya akan membentuk habitual action dan anak pun akan happy dalam melakukan kebiasaan-kebiasaan baik hingga menjadi sebuah watak atau karakter. Bahkan ketika kebiasaan sudah terbentuk, manusia akan merasa kehilangan saat tidak bisa melakukan tindakan mulia.

Makalah yang disampaikan Dr. Muqowim, M.Ag lebih difokuskan pada pengaruh pendekatan LVE (Living Values Education) yang telah diterapkan di sekolah dan madrasah yang sudah setahun menerapkan, yaitu di SMP Al-Hikmah Karangmojo dan MTs N Wonosari. Berdasarkan hasil pengamatan awal dan wawancara singkat dengan beberapa guru di kedua lembaga pendidikan tersebut, ditemukan fakta menarik bahwa ada perubahan secara gradual dalam hal karakter guru dan berdampak pada karakter peserta didik, terutama di kelas.

Makalah tersebut diakhiri dengan suatu kesimpulan tentang pentingnya mengubah karakter guru daripada mengubah materi pelajaran agar mengandung pendidikan karakter melalui RPP maupun silabus. Karena itu, pemakalah menghimbau para praktisi pendidikan untuk tidak terlalu sibuk mengkarakterkan dokumen, tetapi lebih penting dari itu adalah mengkarakterkan diri sendiri agar berdampak pada karakter peserta didik.

Inilah sebagian yang saya dapatkan dari diskusi ilmiah waktu itu, bahwa yang terpenting adalah memberikan contoh atau keteladanan pada anak. Nilai-nilai moral bukan hanya diajarkan, tetapi lebih penting dari itu adalah bagaimana anak mudah menangkap nilai-nilai tersebut, lalu dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari, yang akhirnya menjadi karakter yang melekat.



Daftar Pustaka

Muqowim. 2012. "Model Pendidikan Karakter dengan Pendekatan Living Values Education (LVE)". Makalah ini disampaikan pada diskusi ilmiah dosen tetap UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, pada tanggal 16 Maret 2012.


*Artikel dimuat di harian Satelit Post

1 komentar:

  1. Bagus, tetap istiqamah memperbaiki karakter.

    BalasHapus