Selasa, 24 Juni 2014

Aku dan Mimpi-Mimpiku (Otobiografi Singkat)

Nama saya Rihan Musadik, biasa dipanggil Rihan. Saya lahir pada 25 Januari 1991 di Barabai, Kalimantan Selatan. Orangtua saya asli Jawa dan saat ini usiaku 21 tahun. Saya tumbuh dan berkembang dari keluarga yang sederhana dan biasa-biasa saja. Alhamdulillah, keluargaku taat beragama dan itu sangat saya syukuri. Saya dibesarkan di Purbalingga. Di sanalah saya sekolah, belajar, dan mulai mengenal tentang hidup. Di kota ini aku mengikuti sebuah klub taekwondo satu-satunya di Purbalingga. Saya berlatih taekwondo sejak SMP, sempat berhenti memang, tapi mulai kelas 3 SMP saya lanjutkan kembali sampai sekarang. Saya berlatih keras hingga banyak prestasi yang aku dapatkan, mulai dari tingkat karesidenan, provinsi, bahkan pernah menjadi Juara Nasional dan sempat berlatih di Pelatda (Pelatihan Daerah) untuk mewakili Jawa Tengah mengikuti Kejurnas antar provinsi, sekaligus seleksi Kejuaraan Dunia di Turki. Namun sayangnya, aku gagal pada babak penyisihan dan itu membuatku sangat kecewa. Lama-lama aku mulai belajar dan menyadari tentang kekalahanku dan mulai meninggalkan rasa kecewaku di masa lalu. Aku terus bangkit mengikuti beberapa kejuaraan di tingkat senior, meskipun banyak mengalami kemunduran, tidak sejaya saat aku di yunior.

Lulus dari SMA, tepatnya aku sekolah di SMK YPT PURBALINGGA 2, sempat berhenti selama satu tahun, hingga akhirnya aku kuliah di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), di Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK), program studi Pendidikan Kepelatihan Olahraga (PKO), dan lagi-lagi cabang kepelatihanku taekwondo. Di Yogyakarta aku terus belajar, mencari, berusaha, dan berdoa untuk menjadi orang sukses, walaupun aku tak tahu, Tuhan punya rencana apa buatku. Tapi, yang jelas aku sudah punya ancang-ancang untuk menjadi guru olahraga dan pelatih taekwondo sesuai bidang kuliahku. Alih-alih keinginan untuk menjadi guru olahraga, ternyata saya juga ingin sekali menjadi di atasnya guru, apa itu? Yaitu dosen. Kalau Allah ta'ala berkenan dan menghendaki itu, semua pasti dapat tercapai.

Ada beberapa lagi keinginan atau harapan—mungkin akan menjadi bersemangat jika disebut impian atau cita-cita—yang ingin saya capai, yaitu menjadi seorang penulis brilian, sukses, dan terkenal—salah satunya menulis buku best seller—entah itu karya sastra, karya ilmiah, motivasi, ataupun penulis artikel populer. Saya juga punya impian untuk menjadi orang kaya raya dan salah satu caranya ialah menjadi pengusaha sukses. Untuk itu saya terus berdoa kepada Tuhan agar dikabulkan keinginanku, sembari aku mencoba untuk berusaha, belajar, tumbuh, dan berkembang untuk menggapai cita-citaku.

Keinginan manusia memang akan terus bertambah, dan tak akan ada puasnya hingga kematian menjemput. Tapi, tidaklah mengapa. Karena mimpi dan harapan adalah pertanda kita hidup di dunia ini, tanpa mimpi dan harapan, manusia itu mati walaupun ia hidup. Selain itu saya juga punya keinginan untuk menjadi wartawan atau jurnalis, dan ini merupakan keinginan saya semasa menjadi mahasiswa. Saya akan terus berusaha, mencoba untuk menggapai mimpi-mimpi saya. Tak lupa juga saya tuliskan di sini, saya ingin sekali membahagiakan ayah dan ibu tercinta yang selama ini telah membesarkanku, membimbingku, dan mendidikku dengan penuh cinta dan kasih sayang yang tulus, yaitu dengan memberangkatkan haji keduanya, amiin. Dan aku juga ingin membahagiakan dan membantu keluarga-keluargaku yang mungkin dalam keadaan sulit dan membutuhkan bantuan.

Kemudian yang juga tidak aku lupakan, aku berharap untuk dapat segera menikah setelah aku lulus kuliah, meskipun mungkin saat itu belum mendapat pekerjaan. Aku sangat mengharapkan bisa mendapat jodoh seorang wanita yang shalehah, yang cantik, yang baik hati, yang dapat membahagiakan hati, dan menentramkan jiwa, yang dapat mengingatkanku jika aku salah dan lupa, yang mencintaiku dan akupun mencintainya serta dapat mengantarkanku pada keridhaan Allah. Dan aku memohon pada-Mu Ya Allah, agar aku dapat menikah di usiaku yang ke-23, meskipun aku masih kuliah. Aku sangat yakin dan selalu yakin dengan kuasa-Mu, karunia-Mu, dan kebesaran-Mu. Jadi, keinginan menikah, mendapatkan pasangan hidup setelah aku lulus kuliah aku urungkan, karena aku ingin sekali mendapat pasangan hidup di usiaku yang masih muda, yaitu umur 23 tahun. Jika Allah berkenan dan menghendaki, semua itu pasti akan terkabul, walaupun kita tak tahu proses dan jalannya, karena itu semua adalah urusan Allah Al-Hayyu Al-Qoyyum. Singkatnya, rencana Allah adalah yang terbaik bagi kita. Kita tinggal berusaha dan berdoa, dan hanya Allah sajalah yang menentukan. Perlu saya ingatkan terutama pada diri saya sendiri, bahwa keinginan-keinginan kita itu, tidak lain dan tidak bukan—kalau bisa—mengantarkan kita kepada kedekatan pada Allah.

Sedikit saya ceritakan tentang diriku. Saya juga kesulitan untuk mendeskripsikan diri saya secara utuh. Aku ini orangnya—mungkin—terkadang membingungkan dan sulit ditebak. Ada satu kalimat yang membuatku tertarik untuk mengenal dan memperjelas siapa diriku sesungguhnya. Karena Rasulullah pernah bersabda dalam sebuah hadits untuk “mengenal legenda diri kita”, barangsiapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya. Dan ternyata, kalimat ini juga telah disebutkan ribuan tahun sebelum Rasul, yaitu oleh salah satu filsuf favorit saya, Socrates, dengan kata-kata bijaknya yang terkenal “kenali dirimu”. Kata-kata ini terpajang di kampusku yang setiap saat bisa aku lihat. Ternyata ada banyak misteri dalam kehidupan ini termasuk dalam diri kita masing-masing, dan itu merupakan salah satu kuasa Allah subhanahu wa ta'ala.

Aku orangnya suka belajar, belajar apa saja yang menurutku menyenangkan dan bermanfaat. Aku sebenarnya tidak pendiam, tapi juga tidak banyak bicara. Pergaulan sangat menentukan diri pribadi kita, sehingga ikut membentuk diri kita hingga seperti ini. Ternyata aku juga orangnya suka humor, periang, suka tersenyum dan berpikir positif, namun juga terkadang aku seorang pemalu, penakut, dan kadang juga salah tingkah, juga agak kesulitan menjalin keakraban dengan orang-orang, bahkan mungkin kurang begitu sosial ‘srawung’ dengan orang sekitar.

Tapi untungnya, sudah saya katakan sebelumnya, aku ini seorang pembelajar. Hingga saat ini pun aku terus berusaha untuk membuang sifat-sifatku yang negatif. Dan ternyata membuahkan hasil. Aku terus berusaha untuk tumbuh dan berkembang menjadi seorang “insan kamil”. Dan sekarang mudah untuk bersosialisasi dengan orang-orang. Apalagi agama Islam memerintahkan kita untuk saling peduli dan menyayangi. Aku juga suka tersenyum, karena dengan senyuman, dunia ini menjadi lebih indah, dan pertanda kebahagiaan hati kita memancar, juga merupakan wujud syukur kita kepada Allah. Dengan tersenyum, kita memancarkan energi positif ke alam semesta, maka dengan kuasa Allah, alam semesta pun akan memberikan feedback berupa energi positif dan hal-hal positif yang lebih besar kepada kita.

Ada satu hal menarik yang perlu saya ceritakan, ini berkaitan pada saat saya menonton acara Indonesian Idol. Rasanya indah sekali, bisa memiliki dan melakukan pekerjaan yang kita senangi, bahkan bisa menjadi hiburan kita dan menghasilkan uang melimpah darinya. Alangkah indahnya penyanyi-penyanyi itu, bekerja dengan alunan musik, lagu, dan nyanyian yang memang menjadi kesenangannya. Hingga aku pun sadar, pekerjaan yang tidak membosankan adalah pekerjaan yang sesuai dengan kesenangan kita, yang kita merasa bahagia dan merasa senang pada saat melakukan pekerjaan tersebut. Oh indahnya, jikalau kita selalu bersyukur atas apa yang kita miliki dan kita alami di dunia ini.

Saya sangat menyadari bahwa nikmat yang telah dikaruniakan Allah kepadaku amatlah besar. Karena itulah aku akan selalu berusaha untuk bersyukur kepada-Nya setiap saat, baik dalam bentuk tindakan maupun ucapan. Mungkin di tulisan ini, saya merasa ingin menuliskan dan mengungkapkan potensi-potensi diri saya, sejauh yang saya kenali dari “legenda diri” saya. Seperti sudah saya tuliskan sebelumnya, bahwa aku orangnya sangat suka sekali belajar hal-hal yang bermanfaat, yang dapat menjadikan hidupku lebih baik. Setelah saya pikir-pikir panjang, jelas ini merupakan petunjuk dan karunia Allah, sehingga aku bisa mempelajari, mengetahui, dan memahami berbagi hal tentang hidup ini. Termasuk belajar agama Islam yang selalu aku minati, walaupun tidak begitu mendalam. Aku juga belajar tentang motivasi hidup, cara hidup yang baik, berpikir positif, dan masih banyak hal lagi yang telah saya pelajari dan saya rasakan manfaatnnya dalam hidup.

Beruntung sekali aku menjadi orang yang gemar membaca buku, bahkan aku sempat dianggap keluargaku sebagai “kutu buku”. Dari buku kita mengetahui banyak hal, dari buku pula kita membuka jendela dunia, dari membaca pula kemampuan intelektualku terus berkembang, dan aku pun belajar untuk melepaskan kekakuan lidahku dalam berbicara. Aku mulai mencoba untuk berbicara dengan lancar di depan banyak orang. Dan aku juga terus berusaha untuk lancar dalam menulis, hingga impianku tercapai menjadi penulis terkenal, penulis brilian, penulis produktif, penulis buku best seller, dan penulis profesional. Amiin.

Semua itu saya anggap sebagai sebuah potensi diri saya, hal itu merupakan bekal saya untuk meraih impian-impian saya menjadi kenyataan, di samping saya juga seorang yang ulet, rajin, pantang menyerah, semangat baja, tegas, disiplin, tanggungjawab, dan segudang lagi sikap-sikap positif yang akan terus saya kembangkan. Namun ada tapinya, ternyata saya orangnya juga banyak pertimbangan dalam bersikap dan mengambil suatu keputusan. Saya selalu mengambil keputusan dengan segala pertimbangan yang matang, terkadang juga kurang tegas dalam bersikap, kadang juga malas dan banyak alasan. Dan ada lagi hal-hal negatif yang ada pada diri saya. Oleh karena itu, saya akan berusaha untuk menghilangkan atau mengurangi sikap-sikap negatif yang ada pada diri saya saat ini.

Ada satu lagi yang ingin saya tuliskan di sini. Saya dilahirkan dalam keluarga dan lingkungan yang taat beragama, karena itu saya banyak memperoleh pendidikan agama—meskipun tidak begitu dalam—sebagai bekal paling penting dalam hidup, karena itu pula saya akan berusaha untuk terus mendekatkan diri kepada Allah ta'ala. Dan ini merupakan impian terbesarku, yaitu hidup dalam kebahagiaan, kedamaian, dan keridhaan Allah. Dan kedekatanku pada Allah merupakan potensi dan modal terbesar dalam menjalani hidup dan dalam meraih imipian-impianku. Dan sekali lagi, ini merupakan sesuatu yang sangat saya syukuri. Alhamdulillah.

Sejauh ini saya memiliki beberapa kompetensi yang diperlukan untuk mencapai mimpi-mimpi saya, termasuk bidang keahlian yang saya miliki saat ini. Hingga saat ini, saya kuliah di UNY di Fakultas Ilmu Keolahragaan, jurusan Pendidikan Kepelatihan Olahraga. Saya yakin bahwa saya memiliki kemampuan untuk mendidik, mengajar, dan menjadi seorang guru atau dosen. Saya juga punya kompetensi keahlian untuk menjadi seorang pelatih, khususnya taekwondo. Di samping itu, saya juga merasa berkemampuan untuk menjadi seorang pemimpin, entah itu menjadi pemimpin perusahaan, kepala sekolah, owner suatu bidang usaha, manajer sebuah perusahaan, pelatih sebuah klub olahraga, pemilik klub olahraga dll. Saya juga piawai dalam menulis dan berbicara, dan akan terus saya asah dan kembangkan. Saya juga senang berolahraga sesuai dengan bidangku. Artinya, saya punya—alhamdulillah—tubuh yang sehat dan bugar, wajahku juga saya anggap—lumayan—tampan. Saya punya banyak teman dan akan terus berusaha memperbanyak lagi teman, serta mengembangkan jaringan sosial atau koneksi. Saya juga orang yang baik, rajin beribadah, dan suka mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta'ala

Untuk rencana pengembangan kapasitas diri. Saya akan terus belajar, berusaha untuk tumbuh dan berkembang menjadi apa yang saya inginkan. Ketika saya bermimpi menjadi seorang penulis, saya akan terus berusaha mengasah keterampilan menulis saya. Dengan cara minimal menulis satu paragraf setiap hari, atau satu jam setiap hari, atau bahkan—mungkin saja—satu artikel setiap hari. Dan ini merupakan salah satu indikator keberhasilan untuk menjadi seorang penulis sukses. 

Aku juga teringat untuk menjadi seorang wartawan atau jurnalis, diperlukan kemampuan untuk mengambil gambar dengan baik. Saya terinspirasi dari pamanku—aku biasa memanggilnya om—yang pada saat acara pembukaan pameran susu (sosialisasi pentingnya susu), bertepatan dengan Hari Susu Nusantara, aku ikut bersama pamanku. Pamanku benar-benar seperti seorang wartawan, baik itu penampilannya maupun caranya dalam mengambil gambar (baca: foto) pada waktu itu—aku mengira pamanku itu citizen journalism, karena ia banyak tahu tentang jurnalistik. Dari pamanku juga aku mulai mengenal teknik peliputan atau pencarian berita, dan dari pamanku juga aku termotivasi untuk menjadi “kuli tinta”, walaupun ia sendiri bukan seorang wartawan, tetapi bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Dinas Pertanian dan Kehutanan, yang saat itu memang sedang bertugas di Yogyakarta terkait dengan sosialisasi susu.

Juga pada saat saya berkeinginan untuk menjadi pengusaha sukses, bisa menghajikan kedua orangtua, menjadi kaya raya, memiliki istri yang shalehah, anak yang shaleh dan shalehah, serta hidup dalam kebahagiaan, kedamaian, ketentraman dan keridhaan Allah. Saya akan terus berdoa, mendekatkan diri kepada Allah, sembari terus berusaha, belajar, mencoba, dan berkarya untuk meraih mimpi-mimpiku. 

Ketika saya ingin menjadi seorang pengusaha. Saya baca buku-buku motivasi, teknik, dan cara berwirausaha serta mencoba untuk membuka suatu bidang usaha. Ketika saya ingin menjadi seorang guru atau dosen. Saya akan kuliah sebaik mungkin, bahkan—mungkin saja—melanjutkan S-2 kalau perlu. Ketika saya ingin menjadi seorang pelatih profesional dan memiliki klub olahraga, saya terus belajar, mengembangkan ilmu kepelatihan di bangku perkuliahan dan mempelajari manajemen, cara membuka suatu klub, cara menjadi owner, cara menjadi manajer, dan cara berorganisasi yang baik. Untuk itu saya perlu belajar berorganisasi, tapi nyatanya kegiatan organisasiku kurang aktif. Mungkin aku malas, karena tidak memiliki kendaraan bermotor, atau mungkin organisasi aku anggap sebagai hal yang kurang penting, karena ada hal yang lebih penting aku kerjakan daripada berorganisasi. Tapi, tidak seharusnya aku meremehkan organisasi, karena betapapun organisasi juga merupakan tempat kita belajar banyak hal.

Semoga Allah mengaruniakan kepadaku kemampuan untuk berorganisasi, memimpin, mengatur, dan mengelola sebuah klub, organisasi, atau bidang usaha (bisnis). Semoga Allah 'azza wa jalla juga mengaruniakanku kemudahan untuk bersosialisasi, bergaul, dan menjalin keakraban dengan semua orang. Aku juga suka mengikuti seminar-seminar, training, dan diskusi ilmiah. Semua itu juga merupakan lahan aku untuk belajar, tumbuh, dan berkembang dalam mewujudkan mimpi-mimpiku, yang semoga menjadi kenyataan.

Apa yang sudah saya tuliskan di sini dari awal hingga akhir penulisan, juga merupakan bahan belajar, sekaligus mencoba untuk mengasah keterampilan saya dalam menulis. Mungkin tulisan-tulisan ini terkesan “berantakan”, membingungkan, bolak-balik, banyak diulang-ulang, atau apa sajalah namanya, yang jelas masih banyak kekurangan dalam tulisan ini. Tetapi, sangat saya sadari bahwa ini merupakan awal mula saya dalam menulis dengan karakter yang cukup panjang dan banyak, jarang sekali aku menulis hingga sebanyak ini, walaupun—barangkali—kalimat-kalimatnya, pemilihan kata/diksi masih kurang tepat atau “berantakan”. Semoga saja di hari-hari berikutnya aku dapat menulis lagi, hal-hal yang lebih bermanfaat, lebih berguna, dan lebih panjang dari tulisan ini, dengan kalimat-kalimat atau kata-kata yang lebih baik dari tuilsan saya ini.

Ada lagi yang ingin saya ceritakan tentang keinginan saya yang sangat kuat, yaitu berhenti dari “maksiat” selama setahun. Karena “maksiat” merupakan hal yang dicela bahkan dilarang oleh agama. Dan saya juga meyakini berdasarkan kitab suci Al-Qur’an yang saya lupa suratnya, bahwa jikalau kita mampu menahan syahwat kita yang tidak seharusnya dilakukan, maka Allah pasti akan mempercepat jodoh kita. Semoga Allah menolongku, memberi kekuatan serta kemampuan untuk berhenti dari “maksiat”, menundukkan pandangan, menjaga kemaluan, menjauhi hal-hal yang buruk, dan juga menjauhi perbuatan dosa. Amiin.

Saya sangat yakin dan selalu yakin akan kebesaran dan kemahasempurnaan Allah. Seperti yang sudah saya singgung sebelumnya bahwa tugas kita adalah berusaha dan berdoa, sedangkan hasilnya hanya Allah saja yang menentukan. Allah lebih tahu apa yang terbaik bagi kita. “Allah lebih mengerti apa yang kita butuhkan daripada apa yang kita inginkan”, kata ustadz Bachtiar Nasir, Lc., MM dalam ceramahnya di masjid Al-Mujahidin UNY belum lama ini. Segala sesuatu di dunia ini masih belum pasti dan penuh dengan kemungkinan-kemungkinan yang kita semua tidak tahu ending-nya. Boleh jadi kita berhasil mencapai impian-impian kita dan boleh jadi pula kita tidak berhasil mencapai impian-impian kita. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah ta'ala mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui (QS. Al-Baqarah: 216). Yang jelas rencana Allah jauh lebih baik dari rencana kita.

Dan perlu saya sampaikan kembali bahwa yang terpenting ialah, sejauh mana impian-impian kita mampu mendekatkan diri kita kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Karena menurut saya adalah hal yang sia-sia manakala kita meraih sukses dan mencapai impian-impian kita, tetapi justru semakin menjauh dari Allah. Na’udzubillahi min dzalik. Jangan sampai itu terjadi pada diri kita.

Yakinlah bahwa tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah, jika Allah berkenan dan menghendaki, segala impian kita pasti terwujud. Saya jadi teringat suatu ayat dalam Al-Qur’an yang mengatakan bahwa Allah itu memiliki karunia yang besar. Sesungguhnya karunia itu di tangan Allah, dan Allah memberikan karunia tanpa batas bagi orang-orang yang dikehendaki-Nya, maka mohonlah karunia Allah yang besar itu. Selalulah berdoa dan mendekatkan diri kepada Allah, agar Allah memberikan sebagian karunia-Nya kepada kita, dan juga agar Allah mewujudkan impian-impian kita, dan yang terpenting dari semua itu, supaya Allah selalu meridhai kita, mencintai kita, dan memberkahi kita. Amiin.

Selama hidupku hingga hari ini, aku sangat bersyukur kepada Allah ‘azza wa jalla yang masih memberikan kepadaku kehidupan, kesehatan, udara segar, merasakan cinta dan kasih sayang, merasakan indahnya dunia, menolongku dari berbagai musibah, cobaan, ujian, kesulitan, dan penderitaan dalam hidup. Aku juga amat bersyukur, Allah ta'ala masih memberikan kesembuhan padaku dikala aku sakit, pertolongan dikala aku susah, perlindungan dikala aku dalam bahaya. Dan masih banyak lagi nikmat-nikmat Allah yang tak terhitung banyaknya, yang terkadang kita lupa untuk mensyukurinya. Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. An-Nahl: 18). Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan? Terima kasih Ya Allah, atas kehidupan yang Engkau berikan hingga hari ini. 


Rihan Musadik
Yogyakarta, 23 Juni 2012

2 komentar:

  1. Sabeum @Rihan Musadik, sip (Y) :-)

    Tulisan yang sangat mencerahkan dan inspiratif.....semoga tetap semangat dan tercapai segala impian-impian kamu.......SEMANGAT !!!

    *Salam Taekwondo :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiin. Oke bem, makasih. Kayaknya udah mulai aktif taekwondo, lanjutkan sabem. Salam taekwondo.

      Hapus