Kamis, 30 Agustus 2012

Hadits Shalat Dhuha

Oleh: Muhammad bin Umar bin Salim Bazmul

Dari sahabat Abu Dzar al-Ghifari radhiyallahu'anhu, bahwasannya Nabi shallallahu'alaihi wasallam bersabda, "Bagi masing-masing ruas dari anggota tubuh salah seorang di antara kalian harus dikeluarkan sedekah. Setiap tasbih (subhanallah) adalah sedekah, setiap tahmid (alhamdulillah) adalah sedekah, setiap tahlil (laa ilaaha illallaah) adalah sedekah, menyuruh untuk berbuat baik pun juga sedekah, dan mencegah kemunkaran juga sedekah. Dan semua itu bisa disetarakan ganjarannya dengan dua raka'at shalat dhuha" (HR. Imam Muslim).
  
Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa mengerjakan shalat dhuha dua raka'at, maka dia ditetapkan tidak termasuk orang-orang yang lengah. Barangsiapa shalat empat raka'at, maka dia tetapkan termasuk orang-orang yang ahli ibadah. Barangsiapa mengerjakan enam raka'at, maka akan diberikan kecukupan pada hari itu. Barangsiapa mengerjakan delapan raka'at, maka Allah ta'ala menetapkannya termasuk orang-orang yang tunduk dan patuh. Dan barangsiapa mengerjakan shalat dua belas raka'at, maka Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah di surga. Dan tidaklah satu hari dan tidak juga satu malam, melainkan Allah ta'ala memiliki karunia yang dianugerahkan kepada hamba-hamba-Nya sebagai sedekah. Dan tidaklah Allah memberikan karunia kepada seseorang yang lebih baik daripada mengilhaminya untuk selalu ingat kepada-Nya" (HR. Imam Thabrani).

Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam juga berpesan, "Shalat malam dan siang itu dua raka'at, dua raka'at" (Riwayat Imam Lima).

Dari sahabat Abu Darda' dan Abu Dzar al-Ghifari radhiyallahu'anhuma, Rasulullah bersabda bahwa Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mulia berfirman, "Wahai anak Adam, rukuklah kepada-Ku empat raka'at di awal siang, niscaya Aku akan mencukupimu di akhir siang" (HR. Imam Tirmidzi).


Sumber: almanhaj.or.id

Selasa, 31 Juli 2012

Keagungan Niat

Seorang ulama besar Yaman, Sayyid Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi rahimahullah berkata, "Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya. Jika saudara bangun tidur di pagi hari, maka ucapkanlah, 'Aku hari ini berniat untuk berdzikir kepada Allah ta'ala, membaca kitabullah, bersedekah, mengunjungi saudaraku di jalan Allah 'azza wa jalla, berbuat baik kepada keluargaku, menuntut ilmu, dan lain-lain'. Tetapkanlah niat sebanyak mungkin. Jika Allah memberikan saudara taufik, maka saudara akan mampu mengamalkannya. Dan jika tidak, maka saudara telah meniatkannya dan akan mendapatkan pahalanya".

Jumat, 27 Juli 2012

Ijma'

Persatuan Umat Islam dalam Konteks Ahlus Sunnah Wal Jama'ah

Rasulullah bersabda, "Allah tidak mempersatukan (ijma') umatku atas kesesatan, tangan Allah di atas persatuan (ijma'), orang yang menyimpang (dari ijma') ia menuju ke neraka" (HR. Tirmidzi).

Selasa, 24 Juli 2012

Menunggu di Surga

Menanti hari di surga penungguan
Dan tetap jenuh meski di surga
Karena tak ada cinta bersemi

Kebersamaan dengan senyuman indah
Diiringi pepohonan hijau nan rimbun
Langit pun cerah ikut merestui
Menyatukan perbedaan dalam bingkai cinta

Aku memanggilmu dengan suara hati
Kau pun tetap tak mendengar
Meski suara hati ini begitu peka memanggilmu
Memanggil dengan panggilan cinta


Rihan Musadik 
Purbalingga, Juli 2012

Sabtu, 21 Juli 2012

Tetap Semangat dan Jangan Mengeluh

Rasulullah shallallahu‘alaihi wasallam bersabda, "Bersemangatlah untuk meraih segala hal yang bermanfaat bagimu. Mintalah pertolongan Allah, dan janganlah kamu lemah. Apabila engkau tertimpa sesuatu (yang tidak menyenangkan) janganlah berkata, 'Seandainya aku dulu berbuat begini dan begitu, niscaya akan menjadi begini dan begitu'. Akan tetapi katakanlah, 'Qadarullahi wa maa syaa’a fa’ala (Allah telah menakdirkan, terserah apa yang diputuskan-Nya)'. Karena perkataan 'seandainya' dapat membuka celah perbuatan setan" (HR. Muslim).

Senin, 09 Juli 2012

Proses Belajar

Tak perlu malu jika salah, keliru, atau buruk. Semua itu bagian dari proses belajar, lama-kelamaan pasti akan semakin baik dan meningkat. Terus belajar, tumbuh, dan berkembang. Jangan pernah menyerah!

Rabu, 27 Juni 2012

Petung Jawa dan Islam


Saya setuju dengan hadits riwayat di atas, karena itu praktek langsung Rasulullah dan beliau juga menyunahkannya di bulan Ramadhan. Untuk hari Sabtu, Rabu dan tanggal-tanggal yang lain, tidak ada landasan hadits yang kuat. Hal itu merupakan pendapat ulama dalam beberapa kitabnya, pendapat-pendapat seperti itu apakah masih layak untuk dipraktekan di zaman modern (logis dan rasional), kalau memang ajaran Islam mengadakan hari/bulan baik dan buruk, harus jelas dalil atau haditsnya (shahih). 

Sedangkan kepercayaan atau ilmu Jawa, itu hanya berdasarkan sangkaan 'dzan' dan belum tentu benar, malahan bisa bertentangan dengan Islam. Contohnya, apa hubungan antara hari dan pasaran meninggalnya (geblage) orang tua dari calon pengantin dengan hari baik atau buruk. Hal ini sama sekali tidak ada landasan yang kuat, logis dan ilmiah. Bahkan hal itu berarti meyakini ada sesuatu selain Allah yang mengatur hari baik atau buruk. Semua hari dan bulan semuanya baik, kecuali jika Allah menghendaki ada keburukan pada hari itu, singkatnya Allah-lah yang mengatur akan terjadi apa pada hari itu, entah baik atau buruk hanya Allah yang tahu.

Meskipun demikian, kita harus tetap menghargai orang yang masih menggunakan petung jawa, dan beberapa kitab yang dikarang ulama. Karena ini berkaitan dengan budaya dan kepercayaan seseorang, yang mana kepercayaan akan mempengaruhi hidup seseorang. Bukankah Rasulullah pernah bersabda dalam hadits qudsi bahwa Allah berkata, “Aku menurut persangkaan hambaku”. Ini juga berarti kalau kita selalu berprasangka baik kepada Allah, kita juga akan menerima hal-hal yang baik. Sebaliknya jika kita terus berprasangka buruk kepada Allah, maka kita juga akan mendapat hal-hal yang buruk. 

Berkaitan dengan petung Jawa dan referensi lain tentang adanya hari buruk, yang kita takutkan adalah kita menjadi tergantung kepada hal-hal yang tidak pasti, dan tergantung kepada sesuatu yang tidak kuasa sedikitpun untuk mengatur kehidupan seseorang—kalau enggan berkata syirik—karena hanya Allah sajalah yang mengatur dan menguasai alam semesta dan kehidupan kita.


By Rihan Musadik