Senin, 18 Agustus 2014

Dampak Penggunaan PSS (Protector Scoring System) dalam Pertandingan Taekwondo - BAB I


BAB I 
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah  

Dewasa ini olahraga taekwondo menjadi salah satu cabang beladiri yang cukup banyak peminatnya di dunia, terlebih lagi di Indonesia dengan jumlah penduduk yang cukup banyak, maka sangat terbuka kemungkinan taekwondo dapat berkembang pesat dengan cepat. Peminatnya dari anak usia dini, remaja, dewasa atau pemuda, baik pria maupun wanita. Taekwondo menjadi semakin populer karena begitu banyaknya sosialisasi yang dilakukan, baik lewat acara-acara seni pertunjukan, pamflet, baliho, spanduk yang dipasang, lewat sekolah-sekolah, maupun lewat internet. Apalagi dengan semakin banyaknya dojang atau klub yang dibuka, akan semakin tersosialisasikan dengan baik.

Dengan semakin banyaknya dojang dan klub-klub taekwondo yang tersebar, akan menyebabkan dampak yang positif bagi generasi muda. Karena dari usia muda, bahkan usia dini, taekwondoin akan dilatih untuk disiplin, saling menghormati, sopan santun, dan itu berarti taekwondo selalu mengajarkan pendidikan karakter atau pendidikan moral yang akhir-akhir ini selalu disorot karena semakin terlihat adanya demoralisasi pada generasi muda.
 

Selasa, 12 Agustus 2014

Meninggalkan Kampung Kepuh, Samirono

Hari Minggu, tepatnya pada tanggal 10 Agustus 2014, saya harus merelakan untuk meninggalkan Yogyakarta, terutama kampung Kepuh, pedukuhan Samirono. Di situlah saya tinggal selama kurang lebih empat tahun. Barang-barang kost diangkut semuanya ke dalam mobil Daihatsu Zebra yang kami bawa dari Purbalingga bersama ibu, kakak, dan saudara sepupuku sehari sebelumnya. Beberapa warga yang saya temui berjabat tangan denganku, saya mohon pamit hendak meninggalkan kampung Kepuh ini, karena studi S-1 saya sudah selesai. Semalam sebelumnya saya sempat bersilaturahmi ke rumah Bapak Kost, karena memang masih suasana lebaran Idul Fitri, beberapa jama'ah mushola juga sudah saya salami. Pemilik warung makan di sebelah kostku juga sudah saya salami untuk pamit pulang, juga dengan beberapa warga yang kebetulan saya temui di jalan.

Rasanya sedih sekali hendak melepas kepergian dari kampung Kepuh ini, empat tahun saya tinggal di kampung ini untuk menyelesaikan kuliah S-1 di UNY. Apalagi karena memang saya sudah akrab dengan warga sekitar terutama jama'ah mushola yang hanya beberapa langkah dari kostku. Di samping itu, karena memang ada seorang wanita yang di akhir semester sempat mencuri perhatianku, lewat “curi-curi pandang”. Tapi entah kenapa, rasanya bahasa hati bisa berkomunikasi meski lisan tidak saling bercakap. Sehingga tatkala saya hendak pulang dan pamit, dari matanya tampak pancaran kerinduan yang tak sempat diucap. Begitulah kata para ulama, dari mata turun ke hati, itulah wanita, yang kata beberapa orang, racun dunia, virus cinta, dan sebagainya. Maka tak salah jika Allah memerintahkan kita sebagai seorang muslim untuk menundukkan pandangan, dan Rasul pun pernah bersabda bahwa fitnah terbesar adalah wanita. Di lain waktu, beliau juga mewanti-wanti untuk tidak terus memandangi wanita yang bukan muhrim, palingkan pandanganmu, karena pandangan kedua dan seterusnya itu nafsu dan dosa.

Selasa, 29 Juli 2014

Metafora Terlarang

Lama aku merenung
Bukan kau yang mendesah pikiranku
Tubuh jisimmu yang indah
meski penutup aurat
rapat menyelimutimu
hanya tinggal wajah dan dua telapak tangan yang tampak

Itu perhiasan yang bisa kulihat
Putih bersih cahaya kesalehanmu
Itu dua perhiasan yang tampak
membuat pikiran busuk
menelanjangi tubuhmu
menyetubuhi dan menggerayangimu
ditambah nafsu bawaan menggebu

Sejenak aku berpikir
Bila ada orang yang berkata
Dua perhiasan wajah dan kedua tangan itu aurat
Mungkin aku akan setuju
meski pikiran dulu yang harus disucikan
dari nafsu birahi yang menggebu
yang mendorong metafora-metafora
persetubuhan terlarang


Rabu, 29 Juli 2014

Minggu, 29 Juni 2014

Hamba Allah

Bukan saya, tapi Allah
Apa dayaku, hanya seorang yang lemah
Kekuatanku hanyalah karunia-Mu
Kepintaran dan ilmu bukanlah milikku
tapi pena yang Engkau tuliskan padaku

Jika Kau menghapusnya, maka kosonglah diriku
tidak ada ilmu lagi, tidak ada apa-apa lagi untuk kehidupan ini
Semuanya dari-Mu
Allahku, Allahmu, Allah kita semua
Maka, apa yang dapat kita sombongkan dari diri kita

Kita boleh bangga, karena kita hamba Allah
yang diberi anugerah untuk selalu menghamba kepada-Nya
Bukan bangga, karena merasa kemampuan kita sendiri
Bukan kita, tapi Allah


Rihan Musadik
Yogyakarta, 29 Juni 2014

Selasa, 24 Juni 2014

Aku dan Mimpi-Mimpiku (Otobiografi Singkat)

Nama saya Rihan Musadik, biasa dipanggil Rihan. Saya lahir pada 25 Januari 1991 di Barabai, Kalimantan Selatan. Orangtua saya asli Jawa dan saat ini usiaku 21 tahun. Saya tumbuh dan berkembang dari keluarga yang sederhana dan biasa-biasa saja. Alhamdulillah, keluargaku taat beragama dan itu sangat saya syukuri. Saya dibesarkan di Purbalingga. Di sanalah saya sekolah, belajar, dan mulai mengenal tentang hidup. Di kota ini aku mengikuti sebuah klub taekwondo satu-satunya di Purbalingga. Saya berlatih taekwondo sejak SMP, sempat berhenti memang, tapi mulai kelas 3 SMP saya lanjutkan kembali sampai sekarang. Saya berlatih keras hingga banyak prestasi yang aku dapatkan, mulai dari tingkat karesidenan, provinsi, bahkan pernah menjadi Juara Nasional dan sempat berlatih di Pelatda (Pelatihan Daerah) untuk mewakili Jawa Tengah mengikuti Kejurnas antar provinsi, sekaligus seleksi Kejuaraan Dunia di Turki. Namun sayangnya, aku gagal pada babak penyisihan dan itu membuatku sangat kecewa. Lama-lama aku mulai belajar dan menyadari tentang kekalahanku dan mulai meninggalkan rasa kecewaku di masa lalu. Aku terus bangkit mengikuti beberapa kejuaraan di tingkat senior, meskipun banyak mengalami kemunduran, tidak sejaya saat aku di yunior.

Lulus dari SMA, tepatnya aku sekolah di SMK YPT PURBALINGGA 2, sempat berhenti selama satu tahun, hingga akhirnya aku kuliah di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), di Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK), program studi Pendidikan Kepelatihan Olahraga (PKO), dan lagi-lagi cabang kepelatihanku taekwondo. Di Yogyakarta aku terus belajar, mencari, berusaha, dan berdoa untuk menjadi orang sukses, walaupun aku tak tahu, Tuhan punya rencana apa buatku. Tapi, yang jelas aku sudah punya ancang-ancang untuk menjadi guru olahraga dan pelatih taekwondo sesuai bidang kuliahku. Alih-alih keinginan untuk menjadi guru olahraga, ternyata saya juga ingin sekali menjadi di atasnya guru, apa itu? Yaitu dosen. Kalau Allah ta'ala berkenan dan menghendaki itu, semua pasti dapat tercapai.

Jumat, 13 Juni 2014

Pembebasan Jiwa

Pengetahuan serba terbatas di alam fisik
Menapak bumi memandang ke langit nun jauh di sana
bukan dunia fisik  itu pengetahuan luas, tapi sempit
Spiritualitas, itulah pengetahuan luas

Melalui wasilah jiwa kita bisa sampai pada realitas metafisik
yang tak terjamah tubuh fisik
Jiwa harus naik ke tingkat yang lebih tinggi dan mulia
bukan terus mendekam di dalam penjara tubuh profan


Rihan Musadik
Yogyakarta, 14 Juni 2014

Rabu, 14 Mei 2014

Ramayana

Menatap tubuhku di sini
Bayanganku melayang jauh ke negeri sastra
Kidung-kidung cinta lahir dari sana
Ditanam di negeriku hingga berbuah
sari-sari cinta yang bisa kita petik

Aku terharu pada kisahnya
Keagungan dan kesucian purana
sejalan dengan laku hidup moral yang tinggi

Ramayana, penuh cinta, belas kasih, kepahlawanan
Cinta yang suci tergambar jelas
menyentuh hati yang juga suci
jiwa yang bersih dan tulus

Terkisahkan dengan amat syahdu
dan menembus jiwa yang juga bersih
seperti bunga-bunga mekar yang tumbuh di taman

Ramayana juga mekar menjadi bunga
yang patut kita cium semerbak harumnya
Jangan lihat durinya yang tajam
Lihatlah pada keanggunan bunganya yang membuat hati tersenyum
menyapa dunia yang seolah mengikis moral hari ini

Aku hanya bisa mengagumi
dan tak salah untuk aku teladani ibrahnya
Pesan moral yang terbungkus dengan keindahan sastra yang agung
Mungkin tak akan lekang oleh zaman

Bukan segala bentuk absurditas yang kita lihat
tapi sekali lagi esensi
dan inti cerita adalah pesan moral
Pesan ketuhanan ini
Hanya bisa dipetik bagi hati yang mekar dengan ketulusan
dan jiwa yang bersih tanpa prasangka

Kedamaian, ketenangan, dan kebahagiaan
milik umat manusia seutuhnya


Rihan Musadik
Yogyakarta, 14 Mei 2014