Sabtu, 13 September 2014

Katakanlah dengan Jelas dan Lengkap, Jangan Sepotong

Adakalanya ketika kita memerlukan sesuatu pada seseorang, lembaga, atau instansi; kita diharuskan untuk mengucapkannya dengan jelas. Karena terkadang sebuah perkataan yang kurang jelas, bahkan hanya kurang beberapa kata saja bisa mengakibatkan mis komunikasi atau salah persepsi dari pihak yang kita ajak bicara. Hal ini seperti yang saya alami sendiri tatkala hendak mengambil legalisir KTP di kantor kecamatan. Sebenarnya saya datang ke kantor tersebut pada hari Kamis, lalu karena Pak Camat sedang pergi, maka saya mengambil esok harinya. Tiba keesokan harinya pada hari Jum’at, saya kembali datang ke kantor kecamatan dan segera menemui petugas loket. Saya bilang, “Bu, mau ambil legalisir KTP”. “Sebentar ya Mas, tunggu dulu,” kata ibu petugas loket. Akhirnya saya duduk di tempat yang telah disediakan. Lama saya menunggu, sementara orang lain yang datang belakang sudah selesai urusannya. Saya bertanya dalam hati, “Lama betul, kenapa nama saya tak kunjung dipanggil, sementara orang lain sudah dipanggil namanya”. 

Akhirnya saya putuskan untuk bertanya lagi, “Bu, mau ambil legalisir KTP yang kemarin”. Barulah si ibu itu segera melayani, “Oh, yang kemarin ya Mas”. Diambilkanlah legalisir KTP-ku yang sudah beres. Selesai sudah masa penungguan yang hampir makan waktu satu jam. Segera saya pulang dengan sedikit emosi, tapi ada pelajaran yang bisa saya dapat. Berkatalah dengan jelas, lengkap, dan jangan sepotong-sepotong, agar pihak yang kita ajak bicara segera paham. Ya Allah, hanya kurang beberapa kata saja saya ucapkan, hingga membuat saya rela menunggu lama. Padahal jika saya mengatakan dengan lengkap, niscaya tinggal saya ambil legalisir KTP yang telah kelar itu. 

Terbesit lagi dalam hatiku pada saat perjalanan pulang, “Andai saja tadi aku katakan, ‘mau ambil legalisir KTP yang kemarin’ dan tidak sekedar mengatakan ‘mau ambil legalisir KTP’, niscaya tak akanlah saya menunggu lama, hanya kurang dua kata, ‘yang kemarin’, ternyata bisa merugikanku, oh, Tuhan”. Akan tetapi, di dalam kedongkolanku akhirnya saya sadar dan harus menerima kejadian menjengkelkan itu dengan ikhlas dan lapang dada. Bukankah Rasulullah telah bersabda, "Apabila engkau tertimpa sesuatu (yang tidak menyenangkan) janganlah engkau berkata, 'Seandainya aku dulu berbuat begini, niscaya akan menjadi begini dan begitu'. Akan tetapi katakanlah, ‘Qadarullahi maa syaa’a fa’ala (Allah ta'ala telah menakdirkan, terserah apa yang diputuskan-Nya)'. Karena perkataan lau (seandainya)’ dapat membuka celah perbuatan setan". Subhanallah.


Purbalingga, 13 September 2014 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar